Salah satu film yang dirilis tahun ini dan paling dinanti penikmat film di seluruh dunia adalah film ini : Man Of Steel. Film yang diproduseri Christopher Nolan (sineas yang terkenal karena trilogi Dark Knight yang dibuatnya) dan disutradarai Zack Snyder (sutradara remake Dawn of The Dead) ini akan menampilkan reboot dari kehidupan Superman, dengan memotret kehidupan masa muda Superman dari sudut yang sangat berbeda dari film-film Superman sebelumnya.

Henry Cavill dipercayakan untuk memerani tokoh Superman / Clark Kent. Sedangkan Amy Adams akan memerani Lois Lane. Selain itu bintang lain yang akan berperan dalam film ini adalah Diane Lane (Martha Kent), Kevin Costner (Jonathan Kent), Laurence Fishburne (Perry White), dan Russell Crowe (Jor-El). Musuh yang akan berhadapan langsung dengan Si Manusia Baja dalam film ini adalah General Zod (diperani oleh Michael Shannon), salah satu musuh terkuat Superman yang juga sama-sama berasal dari Planet Krypton.

Film ini akan menceritakan tentang seorang anak kelahiran Planet Krypton yang selamat dari kehancuran planetnya setelah dikirim orang tuanya ke planet bumi. Di bumi, anak tersebut mendarat di sebuah desa kecil dekat Kansas bernama Smallville dan dirawat oleh sepasang petani bernama Jonathan & Martha Kent. Anak itu kemudian diberi nama Clark Kent.

Clark tumbuh dewasa dan kemudian menyadari kalau dia memiliki kemampuan yang berbeda dari manusia biasa. Kekuatan yang dimilikinya ternyata sulit diterima oleh lingkungannya, bahkan dirinya dianggap sebagai mahluk asing yang mengancam kehidupan manusia. Hingga pada satu ketika, bumi diserang oleh Jenderal Zod dan pengikutnya - Faora (diperani Antje Traue) - sehingga membuat Clark Kent harus muncul menjadi sosok Superman yang berjuang melindungi bumi.



Premis film serta gencarnya promosi film ini yang sudah dikumandangkan sejak akhir tahun 2012 silam, membuat banyak orang penasaran dengan film ini. Secara umum jika membandingkan film ini dengan film Superman sebelumnya - Superman Returns (2006) - saya menilai Man Of Steel memiliki bobot yang lebih baik dan jauh lebih menarik. Selain efek khususnya yang cukup menarik, hal lain yang menarik minat saya untuk menonton adalah karena musuh yang dihadapi Superman adalah Jenderal Zod. Buat para penggemar petualangan Superman, tentu tahu kalau Zod adalah salah satu musuh terberat Superman yang memiliki kekuatan yang cukup berimbang. Sama-sama berasal dari Planet Krypton, Zod memiliki kekuatan dan kemampuan yang sama dengan Superman. Keduanya pernah dipertemukan dan bertarung dalam Superman 2 (1980). Tidak heran, banyak fans berharap akan dapat menyaksikan pertarungan yang lebih seru antara kedua tokoh ini dalam Man of Steel.

Film yang dibuat dengan budjet US$ 175 juta dan berdurasi 143 menit ini akan dirilis serentak di seluruh dunia (bioskop konvensional, 3D, dan IMAX) tanggal 14 Juni 2013 mendatang.


DO YOU KNOW?
Ide melakukan reboot atas petualangan Superman sudah dimulai sejak Juni 2008 silam, di mana Warner Bros - sebagai studio film pemegang royalti pembuatan film Superman - mengajak para penulis komik Superman untuk membuat konsep baru petulangan Superman. Diskusi mengenai konsep cerita tersebut terus berlanjut hingga tahun 2010, di mana David S. Goyer dan Christopher Nolan - yang saat itu sedang menggarap film The Dark Knight Rises - memunculkan ide bagaimana menampilkan Superman dalam konteks modern. Ide dan konsep tersebut kemudian diajukan ke Warner Bros. Dengan mempertimbangkan prestasi Christopher Nolan dan David S. Goyer yang menyukseskan trilogi Dark Knight, maka ide mereka diterima. Dan jadilah film Man Of Steel yang dibuat berdasarkan skenario yang dibuat oleh Nolan dan Goyer.

Sutradara Bryan Singer dan Aktor Brandon Routh jauh-jauh hari sudah menyatakan diri untuk ambil bagian dalam proyek Superman berikutnya setelah film Superman Returns (2006) sukses besar. Sesuai kontrak dengan Warner Bros, Bryan Singer ditunjuk untuk menyutradarai beberapa sekuel Superman berikutnya, dan Brandon Routh - yang berperan sebagai Superman di Superman Returns - juga dikontrak untuk memerani Si Manusia Baja ini untuk beberapa sekuel ke depan. Namun setelah Warner Bros memutuskan untuk membuat versi "reboot" Superman, maka kontrak Singer dibatalkan. Saat itu, Routh masih tetap berkeras untuk main dalam film Superman terbaru. Ketika Zack Snyder terpilih sebagai sutradara Man Of Steel dan menyatakan kalau filmnya akan benar-benar bersih dari pemeran film-film Superman sebelumnya, Routh akhirnya mundur teratur.

Karena keinginan Zack Snyder untuk membuat film Superman yang benar-benar baru, maka dia pun tidak akan menggunakan musik tema Superman (Superman March) yang legendaris karya John Williams yang selalu digunakan dalam film-film Superman terdahulu. Untuk lagu tema dan pengiring film, Snyder menggaet Hans Zimmer, komposer yang telah menyukseskan trilogi Dark Knight lewat komposisi lagu pengiring filmnya, untuk membuat musik tema baru Superman. Album soundtrack Man of Steel akan diedarkan dalam bentuk double-CD pada tanggal 11 Juni 2013.

Beberapa pemeran serial televisi Smallville terlibat dalam film Man Of Steel. Amy Adams - pemeran Lois Lane di Man of Steel - pernah bermain di Smallville sebagai Jodi Meville. Demikian juga  Alessandro Juliani - pemeran Sergeant Sedowsky di Man of Steel - yang bermain sebagai Dr. Emil Hamilton dalam serial Smallville. Untuk Anda yang belum tahu, Smallville adalah serial televisi produksi CW Television Network yang ditayangkan sebanyak 10 Season (16 Oktober 2001 - 13 Mei 2011). Serial ini menceritakan kehidupan Clark Kent sejak kuliah hingga tumbuh dewasa dan menjadi Superman. Serial yang diperani oleh Tom Welling (sebagai Superman / Clark Kent), Kristin Kreuk (Lana Lang), Michael Rosenbaum (Lex Luthor), dan Erica Durance (Lois Lane) tersebut banyak menceritakan tentang kisah cinta pertama Clark Kent dan Lana Lang yang bertepuk sebelah tangan, hingga akhirnya Clark Kent jatuh hati dengan Lois Lane. Serial tersebut juga dipenuhi dengan aksi Clark Kent melawan banyak musuh, termasuk musuh-musuh terberatnya : Jenderal Zod, Doomsday, dan Lex Luthor.

Amy Adams sebenarnya sudah tiga kali mengikuti audisi untuk mendapatkan peran Lois Lane di 3 film yang berbeda. Pertama kali, Adams melakukan audisi untuk film Superman yang disutradarai Brett Ratner. Film tersebut tidak pernah jadi dibuat. Kedua kalinya, Adams melakukan audisi peran yang sama untuk film Superman Returns. Dia gagal mendapatkan peran tersebut, dan peran Lois Lane jatuh pada Kate Bosworth. Barulah pada audisi terakhir - di film ini - Adams akhirnya mendapatkan peran Lois Lane.

Film ini adalah film Superman pertama yang mana pemeran Superman bukan aktor Amerika. Henry Cavill  (pemeran Superman dewasa) dan Lee Quigley (pemeran Superman bayi) adalah kelahiran London.

Film ini pun adalah film Superman pertama di mana Anda tidak akan menemukan karakter Jimmy Olsen di dalamnya. Jimmy Olsen adalah foto jurnalis di Daily Planet yang selalu bekerja sama dan bersahabat dekat dengan Lois Lane dan Clark Kent.

Sepanjang film, Anda tidak akan menemukan adanya adegan penggunaan Kryptonite untuk mengalahkan Superman seperti yang biasa dimunculkan di semua film Superman sebelumnya.

Laurence Fishburne yang berperan sebagai Perry White adalah aktor kulit hitam pertama yang memerankan tokoh Perry White. Perry White sendiri aslinya di komik adalah pria berkulit putih. 

Untuk mempersiapkan perannya di film Man Of Steel, Henry Cavill persiapan fisik yang cukup ekstrim. Sebelumnya, Cavill bermain dalam film Immortals yang mana saat itu dia telah memiliki tubuh "eight pack" yang sempurna. Namun, di film berikutnya (The Cold Light of Day), dia diharuskan menguruskan tubuhnya hingga nyaris tinggal tulang berbalut kulit. Dan saat berperan menjadi Superman di film ini, dia harus mengencangkan tubuhnya lagi dengan latihan keras selama berbulan-bulan. Setelah melalui "penderitaan berat" demi mendapatkan kembali tubuh "eight pack" padatnya yang sempurna, Cavill bersumpah untuk tidak akan mengecilkan badannya lagi, apapun yang terjadi.

Zack Snyder menggambarkan Superman versinya sebagai tokoh dengan otot yang besar, padat, dan gagah seperti yang digambarkan dalam komik. Untuk itu, Henry Cavill berjuang keras membentuk tubuhnya persis seperti yang dibayangkan sang sutradara. Selain melakukan olah raga fisik, Cavill melakukan diet ketat. Hasilnya? Sangat luar biasa !!!!

Seolah-olah menjadi ciri khas Christopher Nolan, maka sama seperti trilogi Dark Knight yang tidak menggunakan kata "Batman" sebagai judul dan diganti dengan nama julukan sang Manusia Kelelawar, maka film ini pun tidak menggunakan kata "Superman" sebagai judul dan menggunakan judul Man Of Steel yang merupakan nama julukan sang Manusia Baja ini.

Russell Crowe adalah aktor pemenang Piala Oscar kedua yang memerani Jor-El. Sebelumnya Marlon Brando - yang juga aktor peraih Piala Oscar - memerani karakter ini dalam film Superman (1978). Uniknya, Crowe - bersama bandnya yang bernama "Rus Le Roq" - pernah membuat dan menyanyikan lagu berjudul "I Want To Be Like Marlon Brando".

Di film ini, untuk pertama kalinya kita bisa melihat Russell Crowe bermain bersama Kevin Costner dalam satu film. Uniknya, keduanya pernah bermain dalam film Robin Hood dengan versi yang berbeda (Kevin Costner berperan sebagai Robin Hood dalam film Robin Hood : Prince of Thieves; sementara Russell Crowe berperan sebagai Robin Hood di film Robin Hood).

Pemilihan tanggal 14 Juni 2013 sebagai tanggal rilis film bukan tanpa alasan. Tanggal tersebut adalah tanggal Hari Jadi Superman yang ke-75. Tanggal 14 Juni 1938 - tepat 75 tahun silam -Superman muncul untuk pertama kalinya dalam bentuk komik di "Action Comic #1".


Banyak produser yang mengangkat film animasi ke layar lebar dan diubah dalam bentuk live-action movies. Selain ingin memunculkan nuansa yang berbeda, juga ingin menampilkan apa yang digambarkan dalam film animasi menjadi hal yang lebih hidup. Sayangnya, tidak semua film animasi yang diadaptasi ke versi layar lebar dalam bentuk live-action menjadi lebih baik. Bahkan tidak sedikit yang secara kualitas jauh lebih jeblok daripada serial televisinya. Berikut ini adalah beberapa serial animasi yang diangkat ke layar lebar sebagai film live-action yang - sayangnya - gagal secara kualitas.

GANTZ 2 : PERFECT ANSWER
Gantz aslinya adalah serial manga dan anime yang cukup populer di Jepang. kreasi Hiroya Oku ini menceritakan tentang sekumpulan orang yang dinyatakan "tewas" tapi justru terlibat dalam sebuah permainan melawan Aliens. Serial manganya sendiri masih berlanjut. Sedangkan versi animasinya sudah dibuat dalam 2 season, yaitu Gantz : First Stage (13 episode, ditayangkan di Animax 12 April 2004 - 26 Juni 2004) dan Gantz : Second Stage (13 episode, ditayangkan di Animax 26 Agustus - 18 November 2004).

Versi layar lebarnya juga dibuat dalam 2 seri. Gantz pertama dirilis tanggal 29 Januari 2011 dan Gantz kedua (Gantz 2 : Perfect Answer) dirilis tanggal 23 April 2011. Seri pertama Gantz mendapatkan respon yang cukup baik dari para penonton. Namun kecaman banyak dilontarkan saat Gantz 2 dirilis, karena tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tersisa di seri pertama, namun malah mengulangi apa yang sudah ditampilkan di seri pertama. Akibatnya, Gantz 2 hanyalah menjadi tontonan yang membosankan, bahkan terkesan "dipaksakan untuk ada" hanya untuk menjawab pertanyaan yang pada akhirnya berujung pada pertanyaan lain yang tidak terjawab.


RIKI-OH : THE STORY OF RICKY
Film Hong Kong produksi 1997 ini diadaptasi dari manga Jepang berjudul Riki-Oh karya Masahiko Takajo dan Saruwatari Tetsuya. Sebelumnya, manga ini pernah dibuat dalam versi OVA Jepang berjudul Riki-Oh : The Wall of Hell (1989) dan Riki-Oh : Child Of Destruction (1991).

Film yang diperani Fan Siu Wong, Gloria Yip, Oshima Yukari, dan Ka-Kui Ho ini mengambil penggalan cerita dari komik aslinya, dengan beberapa modifikasi. Dikisahkan Riki-Oh ditahan di penjara setelah membunuh gembong penjahat karena gembong tersebut membunuh kekasih Riki. Di sel tersebut, ternyata banyak orang yang ingin membunuhnya, sehingga Riki - yang memiliki kemampuan bertarung dan kekuatan yang luar biasa tersebut - harus menghabisi mereka satu-persatu.

Film yang terkenal karena penggambaran adegan kebrutalannya yang berlebihan ini memiliki banyak penggemar dan hingga kini menjadi salah satu film eksyen paling disukai. Secara kualitas, film ini tidaklah sebaik komiknya yang kompleks dengan cerita perjalanan hidup Riki yang dramatis. Dengan cerita yang sangat datar, akting buruk dari sebagian besar pemain, serta efek khusus yang terkesan tempelan dan terlihat bohongan, membuat film ini hanyalah sebuah film biasa yang hanya menjual "darah".


CITY HUNTER
Tahun 1993, Jacky Chan mengadaptasi komik dan anime City Hunter ke dalam layar lebar. Dalam film ini, Jacky berperan sebagai Ryo Saeba, sang detektif kota yang konyol bin norak tapi cerdas. Bersama adik perempuan sahabatnya, Kaori Makimura (Wang Chu Shien), keduanya berlayar menaiki kapal pesiar Fuji Maru, di mana di dalam kapal tersebut mereka berhadapan dengan para kriminal yang membajak kapal tersebut.

Menurut saya, Jacky Chan gagal total membawakan peran Ryo Saeba. Dalam versi komik dan animasinya, tokoh karya Tsukasa Hojo ini adalah sosok yang mudah tergoda wanita, jago menggunakan senjata, serta memiliki akal yang luar biasa cerdasnya. Namun di film ini, Ryo Saeba yang kita lihat adalah Jacky Chan, bukan Ryo Saeba yang kita kenal. Komedi yang memenuhi film itu terlalu kental komedi khas Jacky Chan. Bahkan adegan perkelahian yang fenomenal dalam film ini (Jacky Chan berubah menjadi beberapa karakter Street Fighters) tidak bisa menghapus kekecewaan para penggemar City Hunter atas ketidakmampuan Jacky Chan memerankan karakter idola mereka.


DRAGON BALL EVOLUTION
Setahu saya, komik dan anime legendaris Dragon Ball sudah dua kali dibuat versi live-actionnya, dan bukan perusahaan Jepang yang membuat kedua versi itu. Versi pertama dibuat oleh perusahaan film Taiwan berjudul Dragon Ball (1987). Film yang dibuat dengan pernggambaran karakter yang mirip dengan versi anime dan komik ini, sayangnya gagal karena alur ceritanya yang melenceng jauh dari cerita aslinya.

Versi kedua adalah Dragon Ball Evolution (2009). Versi Hollywood ini mengambil pendekatan yang berbeda - bahkan cenderung sedikit "ngeyel" - daripada versi Taiwan. Alur ceritanya agak mengikuti cerita aslinya, tentang Goku (dperani Justin Chatwin) yang sebatang kara dan tinggal bersama kakeknya (Randall Duk Kim). Saat menginjak usia 18 tahun, kakeknya dibunuh mahluk luar angkasa bernama Picollo (James Masters) yang mencari Bola Naga (Dragon Ball) yang kebetulan salah satunya disimpan oleh kakek Goku. Saat kakeknya meninggal, Goku diberi Dragon Ball dan mulailah Goku berpetualang mencari 7 Bola NAga legendaris.

Walau mirip cerita aslinya, namun banyak elemen dalam Dragon Ball yang sangat tidak pas ditampilkan di film ini. Selain ceritanya yang terlalu kelam, akting yang tidak meyakinkan (bahkan terkesan depresi menjengkelkan) Justin Chatwin, nuansa Hollywood yang terlalu pekat dalam film ini (yang aslinya bernuansa Asia) menjadi beberapa alasan dari rentetan alasan lain yang membuat film ini tidak saja buruk dalam segi kualitas, namun juga perolehan box-office-nya pun mengecewakan. Bahkan Akira Toriyama - kreator manga Dragon Ball - pun sangat kecewa karena semua masukannya pada para penulis dan produser - saat film ini akan dibuat - tidak digubris.


SPEED RACER
Speed Racer aslinya adalah manga dan animasi Jepang berjudul Mach Go Go Go yang cukup populer di masa lalu. Komik berserinya sukses saat diedarkan tahun 1958 di Shonen Book dan diterbitkan dalam bentuk buku komik oleh Sun Wide Comics di tahun yang sama. Sukses komik tersebut dibarengi dengan kesuksesan anime serial ini saat ditayangkan tahun 1967 - 1968 di Fuji TV. Ketika ditayangkan di Amerika akhir tahun 1967, serial ini diubah judulnya menjadi Speed Racer dan menjadi serial keluarga favorit yang menjadi legenda hingga hari ini.

Kepopuleran serial tersebut menggoda para produser Hollywood untuk mengadaptasinya menjadi sebuah live action movie tahun 2008. Adalah Larry dan Andy Wachowski - dua sutradara bersaudara yang menelurkan trilogi The Matrix - yang menyutradarai film tersebut. Ceritanya tidak terlalu jauh dari cerita aslinya, di mana diceritakan Speed Racer (diperani Amile Hirsch) yang menyukai dunia balap mobil dan bercita-cita menjadi pembalap. Untuk itu, dia menghadapi banyak rintangan untuk jadi seorang pembalap sejati.

Walau sangat setia mengikuti alur cerita Mach Go Go Go, dan dibuat dengan bantuan efek khusus CGI yang cukup canggih, namun film ini gagal secara komersil. Para kritikus menilai, film ini terlalu banyak mengumbar efek khusus yang terkesan kekanak-kanakan, ceritanya dangkal, bahkan cenderung membosankan.


FIST OF THE NORTH STAR
Ini adalah salah satu manga paling populer di era 80an. Anime berjudul asli Hokuto No Ken ini ditulis oleh Buronson dan digambar oleh Tetsuo Hara dan diterbitkan secara bersambung dalam Weekly Shonen Jump pada tahun 1983 -1988 sebanyak 245 bagian. Versi komiknya diterbitkan sebanyak 27 volume oleh Shueisha di awal tahun 1990an. Versi anmienya sendiri dibuat dalam 2 season, diproduksi Toei Animation dan ditayangkan oleh Fuji TV pada tanggal 4 Oktober 1984 - 5 Maret 1987 sebanyak 109 episode (Season 1), dan 13 Maret 1987 - 18 Februari 1988 sebanyak 43 episode (Season 2). 

Manga dan anime bergenre post-apocalyse masa depan ini menuturkan petualangan Kenshiro, pembunuh dari klan Hokuto Shinken, yang melakukan perjalanan  ke seluruh Jepang untuk melindungi para penduduk yang ditindas para kriminal. Kenshiro memiliki kemampuan membunuh musuh dengan hanya menyentuh beberapa bagian tubuh musuhnya, lalu dalam hitungan detik, bagian tubuh tersebut akan meledak dengan sendirinya.

Tahun 1995 silam, Hollywood pernah mengadaptasi manga dan anime tersebut ke dalam bentuk live-action movie berjudul Fist of The North Star. Diperani Gary Daniels, Costas Mandylor, Chris Penn, dan Isako Washio, serta disutradarai Tony Randel, film ini mengambil cerita tidak terlalu jauh dari cerita aslinya. Sayang, walau alurnya sangat enak dan mudah untuk diikuti, namun film ini dipenuhi dengan adegan perkelahian yang koreografinya kurang enak ditonton sehingga membosankan dan sangat bikin ngantuk. 



Saat ini film Star Trek Into Darkness sedang diputar di seluruh bioskop dunia, termasuk Indonesia. Sambil menonton film tersebut, tidak ada salahnya Anda tahu hal-hal unik dan mencengangkan- yang tidak banyak diketahui orang - berikut ini :

Star Trek pertama kali ditayangkan di stasiun televisi NBC 8 September 1966. Setelah ditayangkan selama 3 season, maka pada tanggal 3 Juni 1969, NBC memutuskan menghentikan penayangan serial ini. Keputusan tersebut mendapat reaksi keras dari para penonton yang menuntut dibuatkannya kembali serial tersebut. NBC akhirnya menayangulangkan serial tersebut ke televisi dan tidak pernah membuat lagi season baru dari serial ini, hingga tahun 1973 dimana serial tersebut dibuat kembali dalam versi animasi. Tiga season serial Star Trek yang dibuat tahun 1966 - 1969 ini dikenal sebagai sebutan Star Trek TOS (Star Trek The Original Series).

Pesawat ruang angkasa NASA pertama bernama Enterprise, yang terinspirasi dari nama pesawat USS Enterprise di serial televisi Star Trek.

"Beam me up, Scotty!" adalah salah satu kalmat klasik yang dikenal banyak penggemar Star Trek. Kalimat itu "diyakini" sebagai kalimat yang biasa diucapkan Captain Kirk (pemimpin pesawat USS Enterprise) saat meminta bawahannya, Scotty, untuk membawa kembali dirinya kembali ke pesawat. Well... memang benar Captain Kirk selalu meminta Scotty melakukan tugas itu, tetapi kalimat yang diucapkannya adalah, "Scotty, beam us up!"

Flip Open Communicator yang digunakan oleh para kru Enterprise sebagai alat komunikasi diyakini sebagai model pertama ponsel yang kita pakai di masa sekarang.

Salam Vulcan yang terkenal dan dilakukan Mister Spock dalam film Star Trek diciptakan oleh Leonard Nimoy, pemeran pertama Mister Spock dalam serial televisi Star Trek TOS. Salam tersebut (di mana jari kelinking dan manis menempel ke satu arah, serta jari tengah dan telunjuk menempel ke arah yang berbeda) didapat Nimoy saat melihat Pendeta Yahudi Kohanim melakukan pemberkatan kepada jemaatnya.

Awalnya, pemimpin pesawat USS Enterprise adalah perempuan. Namun karena NBC tidak setuju, maka pemimpin USS Enterprise diganti menjadi pria, yaitu Captain Kirk.

Star Trek adalah serial televisi pertama yang menampilkan adegan ciuman beda ras, di mana Captain Kirk berkulit putih digambarkan berciuman dengan Letnan Uhura yang berkulit hitam. Episode tersebut ditayangkan tahun 1968, tahun yang sama di mana Martin Luther King - pembela hak asasi manusia - tewas dibunuh.

Seragam yang dikenakan para kru USS Enterprise dibagi dalam 4 warna: Kuning, Biru, Merah, dan Putih. Jika diperhatikan dengan seksama, maka Anda akan temukan bahwa kru berseragam warna Merah lebih sering mati terbunuh daripada kru berseragam warna lain.

Para fans Star Trek dipanggil dengan nama Trekkies / Trekkers.



Jika biasanya Anda membaca di majalah-majalah tentang daftar film terbaik, tidak ada salahnya kali ini saya hadirkan daftar film-film Hollywood terburuk sepanjang masa. Dan berikut ini adalah 20 film tersebut. Mungkin saja beberapa di antara film tersebut adalah favorit Anda....

20. The Beastmaster (1982) :
Walau menjadi film paling sukses pada masanya (dibuat dengan budget US$ 8 juta dan menghasilkan pemasukan hingga US$ 14 juta) dan menjadi film dengan banyak penggemar setia selama bertahun-tahun, film fantasi yang diperani Marc Singer ini serba tanggung. Akting yang kaku, sinematografi yang terkesan film murahan, membuat film ini mendapat nilai miring dari para kritikus film.

19. Hard Target (1993) :
Film perdana John Woo yang baru hijrah ke Amerika ini adalah "disaster" di mata saya. Dan ternyata dunia pun setuju. Tema menjadikan mantan marinir Amerika yang baru pulang dari Vietnam sebagai binatang buruan adalah satu hal yang sangat keliru karena sangat menyinggung perasaan keluarga tentara Amerika. Ditambah lagi pengulangan adegan yang digunakan John Woo dari film-film sebelumnya di era 80an yang dibawanya ke film ini, membuat Hard Target menjadi film yang sangat "kuno" sekali di mata saya.

18. Hot Dog... The Movie (1984) :
Film komedi ikonik era 80an yang bercerita tentang persaingan para pemain ski dunia. Jauh sebelum eranya film komedi parodi Scary Movie yang ancur-ancuran, film ini sudah muncul sebagai film komedi ancur-ancuran yang paling ancur yang pernah saya ketahui.

17. Over The Top (1987) :
Film ikonik berikutnya adalah Over The Top. Di satu sisi, film yang diperani, disutradarai, dan naskahya ditulis Sylvester Stallone ini berhasil mengangkat nama olah raga panco sebagai olah raga bergengsi dan kerap dipertandingkan sejak filmnya beredar. Namun di sisi lain, film ini dicela karena kedangkalan ceritanya. Film ini terbukti tidak sukses di layar lebar saat diedarkan. Walau demikian, film in memiliki penggemar fanatik tersendiri yang menjadikan film ini legendaris dan paling dicari oleh penikmat film di masa kini.

16. Tango & Cash (1989) :
Film eksyen terburuk yang diperani Sylvester Stallone dan Kurt Russell yang pernah saya tonton. Aktingnya buruk, alur ceritanya buruk, sinematografi buruk, .... semuanya buruk.

15. They Live (1988) :
Film science-fiction thriller yang lebih tepat saya katakan sebagai film komedi. Ceritanya sederhana : Tentang mahluk asing yang menguasai manusia, yang mana identitas mahluk tersebut bisa diketahui dengan cara mengenakan kacamata hitam. Sebenarnya ide yang unik. Sayangnya, terkesan konyol sekali. Dan menjadi terdengar semakin konyol, jika orang tahu kalau sutradara film ini adalah John Carpenter, salah satu sutradara horror terbaik era 80an.  Haiya.... (*** Tepuk Jidat ***)

14. Remo Williams : The Adventure Begins (1985) :
Film petualangan-eksyen yang diperani Fred Ward ini awalnya diprediksi sebagai film petualangan yang berpotensi sebagai franchise seperti layaknya Mission : Impossible. Sayang, pembuatannya yang terkesan asal-asalan, membuat film ini terlihat sebagai film komedi yang gak jelas alurnya.

13. The Boondock Saints (1999) :
Sebuah film buruk lain yang menjadi "cult-movie". Saat dirilis, film berbudjet rendah (hanya US$ 6 juta) ini hanya diputar secara terbatas di lima bioskop. Dicaci sebagai film eksyen paling buruk yang pernah dibuat, di luar dugaan, sepuluh tahun kemudian, film ini justru menjadi populer dan meraih popularitas serta penggemar setia. Saya pun tidak tahu apa bagusnya film yang buruk dalam segala hal ini.....

12. Starship Troopers (1997) :
Secara kualitas, film berbudget US$ 105 juta yang disutrarai Paul Verhoeven ini cukup bagus. Bahkan perolehan box office-nya juga tidak mengecewakan : US$ 121 juta. Hanya saja film ini sarat dengan tema fasis. Belum lagi tujuan pertempuran antara manusia dengan serangga raksasa yang tidak jelas, ditambah kisah cinta Casper Van Dien dan Denise Richards yang nanggung, menjadikan film ini hanya sebatas film eksyen biasa.

11. The Toxic Avenger (1984) :
Boleh jadi ini adalah satu-satunya film action superhero low-budget yang punya prestasi luar biasa. Dengan hanya budget US$ 500 ribu, film ini mampu menjadi cult-movie yang banyak dibicarakan orang. Tidak hanya menjadi satu-satunya film superhero "murah-meriah" yang dibuat hingga beberapa sekuel, namun film ini juga diadaptasi sebagai drama musikal yang banyak ditonton hingga hari ini. Kalau mau jujur, film ini buruk dalam segala hal. Bahkan jika harus diberi nilai, saya akan memberinya "F-". Jika sampai banyak orang menyukai film ini, saya benar-benar garuk kepala....

10. Best of The Best (1989) :
Sejak film Bloodsport (1986) yang bercerita tentang pertandingan bela diri gaya bebas sukses di pasaran, maka banyak film sejenis yang bermunculan dan membanjiri bioskop di masa itu. Salah satu yang cukup populer adalah film ini. Diperani Eric Roberts dan Phillp Rhee, film ini menceritakan tentang pertarungan gaya bebas resmi antara Tim Amerika Serikat melawan Tim Korea Selatan. Tidak ada yang salah dengan film ini hingga 30 menit menjelang ending, di mana konteks ceritanya mulai ngawur dan puncaknya pada ending yang terkesan sangat dipaksakan

9. Missing in Action (1984) :
Seumur hidup saya tidak pernah suka dengan film-film Chuck Norris. Aktingnya yang kaku menjadi satu-satunya alasan saya untuk tidak pernah berminat menonton film-filmnya. Termasuk Missing in Action yang cukup populer di era 80an.

8.Commando (1985) :
Bagi banyak orang, Commando adalah "legenda". Tapi menurut saya, film ini adalah disaster. Akting Arnold yang masih "pemula" di dunia akting waktu itu, ditambah lagi tubuhnya yang gempal dan tidak lincah bergerak melawan musuh, membuat tanda tanya besar jika dia mampu menghadapi musuh-musuhnya yang bersenjata lengkap.

7. The Island of Dr. Moreau (1996) :
Walau saya sempat "berusaha" mengapresiasi film terakhir Marlon Brando ini, namun mau-tidak mau film ini membuat kepala saya sakit memikirkan alur ceritanya. Entah saya yang "telmi" atau sutradara yang terlalu pintar. Untungnya, saya akhirnya tahu kalau para penonton dari seluruh dunia pun mengalami hal yang sama dengan saya usai menonton film ini....

6. Billy Madison (1995) :
Adam Sandler berperan sebagai Billy Madison, anak konglomerat yang harus kembali bersekolah. Komedinya lucu banget. Tapi sarkastis dan "sangat" Adam Sandler banget yang guyonannya melebihi batas, dan sangat melecehkan sekali orang-orang yang menderita keterbelakangan intelektual.

5. Braindead (1992) :
Film produksi New Zealand ini mungkin akan dilupakan banyak orang, jika saja Peter Jackson - sutradara film ini - tidak populer saat membuat trilogi The Lord of the Rings dan The Hobbits. Film ini menuturkan tentang seorang turis yang tergigit monyet Sumatera saat berwisata ke Indonesia. Setelah pulang ke negerinya, turis itu menjadi zombie yang menggigit keluarganya, lalu menggigit sekelilingnya. Alhasil, seluruh orang New Zealand menjadi zombie. Premisnya ok. Tapi pembuatan film ini buruk sekali. Sepanjang film, penonton disuguhkan dengan berbagai adegan teknik membunuh zombie yang konyol dan memuakkan. Lima menit, OK. Tapi jika "disiksa" dengan tontonan semacam itu selama lebih dari 90 menit, emang enak????

4. Dolemita (1975) :
Film yang semua pemerannya orang berkulit hitam ini ga apa maunya. Alurnya sangat ga jelas.Maunya sih komedi, tapi justru tidak lucu dan terkesan "maksa". Warkop DKI jauh lebih lucu ketimbang film amburadul ini.

3. Showgirls (1995) :
Semua orang di dunia - termasuk saya - telah sepakat kalau ini adalah drama-komedi terburuk yang pernah dibuat. Film berdurasi 130 menit ini hanya dipenuhi dengan adegan seks dan erotis yang ga jelas, sehingga penonton pun bingung untuk mendeskripsikan film ini : Apakah film artistik-seni atau film biru (Blue Film)?

2. Porky's (1982) :
Jauh sebelum film American Pie (1999) dikenal publik, ada film komedi-remaja nakal yang sempat merajai bioskop di era 80an. Dan film itu berjudul Porky's. Di era tersebut, film ini tergolong film yang kurang etis dan sangat tidak sopan, bahkan "kegilaan" remaja di film itu sudah melampaui batas kewajaran, seperti mengintip wanita mandi dan berganti pakaian di kamar mandi, serta membuka celana di depan wanita (eksibisionis). Jika hal itu dapat membuat penonton tertawa, saya jadi bingung..... Apakah hal seperti itu lucu?

1. Big Trouble in Little China (1986) :
Peter Carpenter mencoba membuat film eksyen yang unik. Tapi hasilnya jadi aneh. Tentang seorang supir truk (Kurt Russell) yang menolong temannya yang tinggal di China Town San Fransisco, lalu harus bertarung dengan anggota triad serta tukang sihir yang hidup abadi. Huh???? Racikan cerita yang aneh sekali..... Dan entah kenapa hingga hari ini saya tidak pernah bisa menikmati film ini....



Salah satu sutradara papan atas yang sangat saya hormati - dan "takuti" - adalah Takashi Miike. Sutradara yang dikenal dengan film-filmnya yang selalu penuh adegan kekerasan yang berlebihan, brutal, dan berdarah- darah ini memiliki daftar panjang karya ekstrimnya yang ternyata diminati bahkan dikagumi banyak orang di dunia, seperti Shinjuku Triad Society (1995), Audition (1999), trilogi Dead or Alive (1999), Ichi The Killer (2000), Crow Zero (2007), 13 Assasins (2010), dan Harakiri : Death of A Samurai (2010). 

Selain penuh darah dan bikin miris, Miike selalu membuat filmnya dalam bentuk yang sederhana : sinematografi yang biasa-biasa, ceritanya tidak ngejelimet, serta dilakukan dalam satu atau dua lokasi shooting tertentu, sehingga terkesan filmyang dibuatnya adalah film "low-budget".

Berbeda dengan karya terbarunya : Shield of Straw(Wara no Tate), Miike tampil lebih "wah". Dirilis tanggal 26 April 2013 silam, film ini masih mengusung gaya dan ciri khas Miike : brutal dan sadis. Yang membedakannya adalah penambahan nuansa Hollywood (kejar-kejaran mobil, tembak-tembakan, dan ledakan) yang membuat film ini terlihat lebih "rame", menegangkan, dan mahal.

Alur ceritanya cukup sederhana : Film diawali dengan munculnya kasus pembunuhan sadis yang terjadi pada seorang gadis muda di Fukuoka. Kunihide Kiyomaru (diperani Tatsuya Fujiwara) - seorang residivis yang baru dituduh melakukan pemerkosaan dan pembunuhan anak di Tokyo, dan bersembunyi di Fukuoka - menjadi tersangka pembunuhan tersebut. Kakek sang gadis (diperani Tsutomu Yamazaki) - seorang pengusaha kaya - tanpa berpikir panjang, menawarkan satu juta yen bagi siapa saja yang bisa menghabisi nyawa Kiyomaru.

Menyadari nyawanya terancam, Kiyomaru meyerahkan diri ke polisi. Demi menjaga keselamatan Kiyomaru, lima orang polisi - dipimpin oleh Kazuki Mekari (diperani Takao Ozawa), polisi pendiam namun temperamental - ditugaskan untuk mengawal sang residivis ke Tokyo untuk menjalani sidang di sana. Untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan - terlebih jarak dari Fukuoka dan Tokyo cukup jauh, yaitu 1,200 kilometer - maka kepolisian menyewa kereta shinkansen untuk membawa sang residivis. Dan cerita sebenarnya dari film ini pun dimulai.

Sepanjang perjalanan, ada saja orang yang berusaha membunuh Kiyomaru demi mendapatkan hadiah satu juta yen yang ditawarkan kakek sang korban. Lima orang polisi yang mengawal Kiyomaru harus berjuang mati-matian untuk melindungi sang residivis dari serangan tiba-tiba para pemburu hadiah, Belum lagi ternyata salah satu dari mereka berlima juga diam-diam mengincar hadiah tersebut.

Sedikit-banyak film ini mengingatkan saya pada 16 Blocks (2006) yang diperani Bruce Willis, Mos Def, dan David Morse. Namun yang membedakan Shield of Straw dengan 16 Blocks adalah ketegangan yang dibangun oleh Takashi Miike lebih dinamis dan penuh kejutan. Sepanjang 125 menit, penonton disuguhkan kejutan-kejutan yang berdarah-darah. Bisa dibayangkan bagaimana perasaannya saat menonton, tiba-tiba dikejutkan dengan serangkaian adegan-adegan miris yang bikin bulu kuduk berdiri.


TRIVIA FACTS :
Shield of Straw terpilih sebagai salah satu film yang dinominasikan di Cannes Film Festival 2013 untuk memperebutkan piala Palme d'Or. Festival tersebut digelar tanggal 15 - 26 Mei 2013.

Tidak banyak yang tahu jika Takashi Miike pernah menyutradarai serial tokusatsu Ultraman Max. Ya, Miike mendapat kesempatan untuk menyutradarai episode 15 dan 16 serial tersebut. Karena serial ini diorientasikan bagi penonton anak hingga remaja, Anda tidak akan melihat gaya penyutradaraan Takeshi yang penuh darah dan sadis.

Lagu tema (theme song) film Shield of Straw berjudul North of Eden yang dinyanyikan oleh Kyosuke Himuro. Himuro adalah salah satu penyanyi senior Jepang yang cukup populer di era 80an. Sebelumnya, Himuro bergabung dengan grup musik rock Boowy tahun 1981 - 1988. Setelah band tersebut bubar, Himuro bersolo karir dan sukses. Dia bahkan menjadi artis Jepang terpopuler di tahun 2003 dan menduduki posisi 76 dalam daftar 100 Artis Pop Jepang Paling Penting (100 Most Important Japanese Pop Acts) versi HMV Japan. Selain mengisi lagu tema Shielf of Straw, Himura sebelumnya pernah pula mengisi lagu tema untuk film Van Helsing ("Wild Romance"), dan Final Fantasy VII : Advent Children ("Calling").

Terus terang, saya bukan seorang penggemar film Korea. Butuh alasan yang kuat, serta perdebatan yang alot (antara saya dan diri saya sendiri) untuk akhirnya memutuskan menonton sebuah film Korea (jadi jangan heran jika saya sangat jarang me-review film Korea). 

Bagi saya, film Korea - khususnya yang bergenre drama - identik dengan sinetron Indonesia yang penuh air mata. Cengeng. Bertele-tele.Dan ceritanya garing banget (ya.... sama seperti sinetron Indonesia, ceritanya ga akan jauh-jauh dari intrik perebutan harta warisan, cinta segitiga, CLBK, dan sejenisnya....). 

Kalau pun ada film Korea bergenre thriller, maka ceritanya seringkali ribet dan "festival movie" banget (hanya orang tertentu yang paham maksud film tersebut). Saya rasa film Old boy sudah cukup membuat saya pusing karena terlalu lama mengenyitkan kening, meraba-raba alur cerita yang begitu memusingkan, dan baru "sedikit" benderang di akhir film. 

Bagaimana dengan horor-nya? Serba tanggung. Seram tidak, mengejutkan pun tidak. Film-film seperti Cello, The Tale of Two Sisters, dan The Ring Virus yang katanya "serem", malah membuat saya tertidur (untung nontonnya di DVD. Bayangkan betapa ruginya kalo nonton di bioskop...). Jika disuruh memilih, saya akan lebih memilih menonton film-film Thailand dan Jepang yang jauh lebih seram, "bloodiest", dan bikin jantungan. 

Jadi jika pada akhirnya ada film Korea - genre apapun - yang mampu menarik perhatian saya untuk ditonton, berarti film itu masuk kategori "luar biasa". Bisa jadi ceritanya, pemerannya, maupun hal lain. Dan minggu ini, akan ada sebuah film layar lebar Korea yang akan dirilis dan berhasil "mencuri" hati saya. Film tersebut adalah Montage (몽타주; Mon-ta-ju).

Dirilis tanggal 16 Mei 2013 mendatang di Korea, film bergenre thriller ini menceritakan tentang kejadian penculikan 15 tahun silam yang tidak pernah terungkap. Lima hari sebelum kasus tersebut dinyatakan "ditutup" oleh kepolisian, seseorang meninggalkan bunga di lokasi kejadian penculikan 15 tahun silam tersebut. Setelah itu, sebuah penculikan bermodus sama terjadi lagi dengan target yang mirip korban penculikan 15 tahun silam. 

Kasus ini menggegerkan kepolisian, yang kemudian membuka kembali kasus masa lalu. Adalah Cheong-ho (diperankan oleh Kim Sang-kyung), detektif yang 15 tahun silam menangani kasus penculikan tersebut, yang kemudian mengajukan diri untuk menyidiki kasus penculikan tersebut. Kegagalannya di kasus pertama, membuatnya trauma dan bersumpah untuk membekuk penculik tersebut. Pemimpinnya mengizinkan Cheong-ho untuk menangani kasus tersebut.

Selain Cheong-ho,  ternyata ada 2 orang lain yang mempunyai obsesi sama untuk membekuk sang penculik : Kakek (diperani Song Young-chang) dan Ibu sang korban pertama (diperani Uhm Jung-hwa). Keduanya terpukul karena kehilangan anggota keluarga yang mereka cintai, dan berjuang untuk mendapatkannya kembali. Dengan segala cara. 

Bertiga mereka bahu-membahu - dan mempertaruhkan semua yang mereka miliki, termasuk nyawa sekalipun - untuk menemukan penculik yang sama sekali tidak mereka ketahui identitasnya. Mereka harus bertarung dengan waktu, karena waktu mereka tidak banyak. Sang penculik harus ditangkap dalam waktu singkat, atau kasus tersebut akan dinyatakan sebagai "kasus mati" (Dead Case) dan mereka selamanya tidak akan pernah menemukan keadilan dari kasus tersebut.

Film yang disutradarai Jung Geun-sub ini menawarkan premis film yang menarik. Kebetulan saya menyukai film eksyen-thriller yang bertemakan cerita "bertarung melawan waktu" sejenis film-film The Nick of Time, Speed, film Hong Kong Breaking News, serial televisi 24, maupun film Korea The Chaser. Itulah yang menjadi sebab mengapa saya terpikat untuk menonton film ini. Dengan durasi yang lumayan panjang (119 menit), serta trailer-nya yang cukup menegangkan, tampaknya film ini menawarkan sebuah tontonan seru yang akan membuat penonton tetap bertahan di kursi hingga film berakhir. 

Secara kualitas pun, film ini tampaknya sangat baik dengan cerita yang tidak bertele-tele. Saya jadi tidak sabar untuk segera menontonnya....


TRIVIA FACTS : 
Film ini merupakan film yang didedikasikan kepada keluarga korban penculikan di Korea, sekaligus memperingati The 7th International Missing Children's Day tanggal 26 Mei 2013 mendatang. Kim Sang-kyeong dan Uhm Jung-hwa ditetapkan sebagai Duta International Missing Children's Day dan akan memulai kampanye mereka tanggal 26 Mei mendatang. Dalam konferensi pers saat mempromosikan film ini, mereka menyerukan kecaman mereka terhadap para penculik anak yang telah merenggut kebahagiaan keluarga-keluarga, baik di Korea maupun di negara manapun. 




 
Sebuah serial yang tergolong anyar belakangan ini cukup menyedot perhatian saya. Judulnya The Following. Episode perdana serial bertotal 15 episode ini dirilis tanggal 21 Januari 2013 di jaringan televisi Fox, dan episode terakhirnya baru selesai ditayangkan 29 April 2013 silam. Jadi bisa dibilang masih sangat baru sekali. Season kedua serial ini akan segera dibuat dan akan mulai tayang awal tahun 2014 mendatang.

Diperani Kevin Bacon dan James Purefoy, serial thriller-psikologis ini menceritakan tentang Dr. Joe Carroll (James Purefoy), seorang profesor pengajar literatur Inggris di Universitas Winslow yang juga seorang penulis dan psikopat pembunuh berantai. Delapan tahun silam, aksi brutalnya berhasil dihentikan oleh Agen FBI Ryan Hardy (Kevin Bacon) dan berhasil memasukkan Carroll ke dalam penjara. Namun saat menghentikan aksi keji Carroll, Hardy nyaris tewas setelah jantungnya ditusuk Carroll. Beruntung Hardy tetap dapat hidup, walau jantungnya harus dipasangi alat pacu jantung. Sejak saat itu, Hardy mengundurkan diri dari kepolisian dan menjadi penulis.

Delapan tahun kemudian, Carroll yang telah divonis hukuman mati, berhasil melarikan diri dari penjara setelah menghabisi semua sipir penjara dengan kejam.

Hardy yang telah pensiun, dipanggil kembali untuk membantu FBI, karena Hardy dinilai paling memahami jalan pikiran Carroll. Tidak butuh waktu lama, Hardy berhasil membekuk Carroll. Kisah tamat begitu saja? Ternyata tidak. Karena Carroll memang sengaja membiarkan dirinya dibekuk oleh Hardy.

Tanpa diketahui banyak orang, Carroll memiliki banyak pengikut setia di luar penjara, yang berada di bawah kendalinya dan dapat digerakkan setiap saat olehnya. Carroll sendiri telah menyiapkan sebuah skenario besar penuh kejutan yang bertujuan menghancurkan Hardy. Justru dengan membiarkan dirinya dibekuk, Carroll lebih leluasa mengendalikan anak buahnya, tanpa perlu takut dipersalahkan.Bagi Carroll, mempermainkan nasib Hardy ibarat sedang membuat sebuah novel misteri di mana Hardy berperan sebagai tokoh sentral yang harus memecahkan rahasia dan jebakan yang dibuat oleh Carroll.

Serial ini cukup menarik untuk disimak tidak saja karena ketegangan dan kesadisan yang dihadirkan dalam setiap episode, namun juga alur cerita yang sangat cepat dan tidak terduga. Akting James Purefoy yang berkarisma dan kejam, mau tidak mau mengingatkan kita pada sosok Hannibal Lector dalam film The Silence of The Lambs (1991) yang dibawakan dengan sangat sempurna oleh Sir Anthony Hopkins. Baik karakter yang dibawakan Purefoy maupun Anthony Hopkins memiliki kesamaan karisma yang nyaris seimbang. Hal ini membuat penonton yang menonton The Following dapat miris melihat akting Purefoy yang "menghanyutkan" namun mendirikan bulu roma karena kekejamannya.

Selain kecepatan alur, salah satu daya tarik serial ini adalah : selalu saja ada (minimal) satu karakter dalam setiap episode yang ternyata adalah pengikut Carroll. Dan pengikut Carroll ini tidak saja menyabotase pekerjaan Hardy, tetapi juga beberapa kali nyaris membunuh Hardy. Penonton dibuat penasaran dan menebak-nebak, siapa karakter tersebut. Bahkan ada karakter yang sejak awal cerita muncul sebagai karakter protagonis, tau-tau setelah berjalan beberapa episode ternyata adalah musuh dalam selimu. 

Bagi penggemar serial seru dan penuh kejutan sejenis serial "24" atau "Alias", serial jenis ini jelas menegangkan dan sangat menarik untuk ditonton. Yang pasti : kalo sudah nonton, akan sulit untuk berhenti. Karena itu disarankan untuk menonton serial ini secara maraton dan berkelanjutan.

Para Pendukung serial The Following
Banyak kritikus yang memuji serial ini sebagai salah satu serial televisi bergenre thriller-psikologi terbaik saat ini. Salah satu kelemahan serial ini - menurut Ken Tucker dari Entertainment Weekly - adalah penggunaan literatur karya Thoreau, Emerson, dan Edgar Allan Poe sebagai petunjuk yang disebarkan Carroll untuk memberikan instruksi kepada semua pengikutnya. Hal ini jelas sangat mengganggu, karena dikuatirkan akan menciptakan penafsiran yang keliru pada karya ketiga pengarang tersebut, bahkan menciptakan "follower" Carroll di dunia nyata.

Selain Kevin Bacon dan James Purefoy, serial ini didukung pula oleh pemain lain, seperti Natalie Zea (pemeran Dr. Claire Matthews, istri Joe Carroll yang juga kekasih gelap Ryan Hardy), Annie Parisse (Debra Parker, agen FBI spesialis Perilaku Pengkultusan), Shawn Ashmore (Mike Weston, Agen FBI yang juga rekan kerja Ryan Hardy), dan Kylee Catlett (Joey Matthews, anak Joe Carroll dan Claire Matthews).


DO YOU KNOW?
Kevin Williamson - kreator serial The Following - menggambarkan Ryan Hardy sebagai "pria tangguh berjiwa anak-anak". Kepada Agennya, Williamson mengatakan bahwa dia mencari seseorang yang mirip dengan Kevin Bacon untuk membawakan peran tokoh tersebut. Ketika Agennya menawarkan Kevin Bacon, Williamson baru menyadari bahwa Bacon pun sudah 4 tahun terakhir ini mencari peran di serial televisi yang menampilkan dirinya sebagai sosok seperti yang dicari Williamson. Klop.

Nama karakter antagonis Joe Carroll, dalam dunia nyata ternyata adalah nama samaran yang digunakan oleh John Sweeney, seorang pembunuh berantai asal London yang dikenal dengan julukan "Sketchbook Killer".



Pertengahan tahun ini, tepatnya tanggal 28 Juni 2013 mendatang, penonton seluruh dunia akan berkesempatan lagi menyaksikan aksi Jet Li. Film terbarunya - Badges of Fury (不二神探) - akan dirilis pada tanggal tersebut, serentak di seluruh Asia.
Poster Badges of Fury. 

Di film ini, Jet Li akan berperan sebagai seorang polisi yang jutek, ngomongnya pedas, namun baik hati dan - tetap - jago bela diri. Film ini bergenre komedi-eksyen. Bukan genre baru yang dilakoni Jet Li, karena sebelumnya dia sudah sering bermain dalam genre ini, seperti yang bisa kita lihat di serangkaian serial Wong Fei Hung (Once Upon A Time in China), dwilogi Fong Sai Yuk, Kungfu Cult Master,  High Risk, The Hitman, The Master, dan The Taichi Master.

Aktor yang akan berpasangan dengan Jet Li dalam film ini adalah Wen Zhang. Ini adalah kali ketiga mereka bermain dalam satu film, setelah sebelumnya sudah dipertemukan di film Ocean Heaven (2010) dan The Sorcerer and The White Snake (2011).

Film yang disutradarai Wang Ziming dan diproduseri Po Chuchui ini diawali dengan terjadinya kasus pembunuhan kejam di Hong Kong dalam tiga hari berturut-turut, di mana semua korbannya tewas dengan wajah tersenyum. Saat investigasi dilakukan, secara tidak sengaja, Detektif Wang Bu Er (Wen Zhang) bergurau mengenai kasus tersebut dan menyebutnya sebagai aksi seorang pembunuh berantai. Sontak gurauannya ditanggapi serius oleh  Atasannya yang kemudian menugasi Wang Bu Er - dengan dibantu Inspektur Veteran Huang Fei Hong (Jet Li) - untuk menyidiki kasus ini.

Baik Bu Er dan Fei Hong ternyata memiliki karakter yang kontras yang cukup mengundang tawa.  Bu Er bergaya slengeg-an dan banyak menggunakan otak untuk memecahkan kasus. Sedangkan Fei Hong lebih serius, bermulut pedas, serta banyak menggunakan tangan dan kakinya untuk menguak kebenaran. Sudah bisa dibayangkan apa yang akan terjadi saat keduanya bekerja sama.

Selain mereka, banyak aktris dan aktor populer Hong Kong (kebanyakan aktor dan aktris serial televisi TVB) yang bermain sebagai cameo dan pemeran pembantu yang mendukung film ini. Beberapa di antaranya adalah Cecilia Liu, Michelle Chen, Liu Yan, Raymond Lam, Collin Chou, Tong Dawei, Stephy Tang, Bryan Leung, Alex Fong, Michael Tse, Wu Jing, dan Kevin Cheng. 

Cerita yang unik. Aksi laga yang seru. Serta jajaran pemeran yang mantap. Tidak sulit untuk menebak kalau film ini bakal jadi salah satu film box-office Asia di bulan Juni nanti.



DO YOU KNOW?

Saat melakukan shooting adegan kejar-kejaran kendaraan di Sha Tin Water Treatment, salah satu mobil yang digunakan stunt-man dalam adegan tersebut hilang kendali dan terbalik. Mobil tersebut melukai 9 orang warga yang menonton shooting tersebut. Bahkan staf sinematografi film ini nyaris tewas tertimpa mobil tersebut.
Jet Li's action in "Badges of Fury"

Selama shooting berlangsung, beredar foto Wen Zhang yang bermesraan Michelle Chen. Sontak foto itu menghebohkan masyarakat Hong Kong. Wen Zhang - yang telah berstatus menikah - cukup terganggu dan memberikan klarifikasi bahwa foto tersebut adalah salah satu foto dari adegan dalam film Badges of Fury. Hal ini kemudian dibuktikannya dengan meminta produser Badges of Fury menayangkan potongan film yang menunjukkan kemesraan Wen Zhang dan Michelle Chen tersebut pada publik.

Corey Yuen ditunjuk sebagai martial art choreographer dalam film ini. Buat Anda yang kurang mengenal Corey Yuen, dia adalah saudara kandung dari Yuen Biao (saudara seperguruan Jackie Chan) yang selain dikenal sebagai aktor, juga sebagai martial art choreographer. Adegan perkelahian legendaris yang Anda saksikan di film-film eksyen seperti trilogi The Matrix, Fist of Fury, pancalogi Once Upon A Time in China (Wong Fei Hung), So Close, dan Ip Man adalah sebagian dari hasil kerjanya.





Dalam artikel sebelumnya, saya informasikan bahwa Cold War terpilih sebagai film terbaik versi 32nd Hong Kong Film Awards. Selain itu, film ini pun memenangkan 8 penghargaan lain, termasuk Best Actor (Tony Leung Ka Fai), Best New Performer (Alex Tsui), dan Best Director (Longman Leung dan Sunny Luk).

Film yang dibintangi Aaron Kwok, Tony Leung Ka Fai, Charlie Young, Gordon Lam, dan Aarif Rahman ini menceritakan tentang sekelompok orang misterius yang menyandera sebuah kendaraan polisi yang berisi peralatan canggih dan lima orang polisi terlatih yang ada di dalam kendaraan tersebut. Penyandera menuntut uang tebusan yang cukup tinggi. Jika tidak, maka kelima polisi tersebut akan dihabisi.

Guna menyelamatkan rekan mereka, Kepolisian Hong Kong membentuk tim khusus untuk melakukan operasi penyelamatan, dengan kode sandi operasi Cold War. Pada saat itu, Deputi Komisaris Sean Lau (Aaron Kwok) dan Waise Lee (Tony Leung Ka Fai) saling bersaing untuk mendapatkan kepercayaan memimpin tim khusus tersebut. Selain mendapatkan penghargaan, mereka berdua pun punya kepentingan pribadi untuk merebut jabatan Komisaris yang akan segera kosong dalam waktu dekat karena Komisaris yang sekarang akan pensiun.

Dengan waktu yang sudah tidak banyak lagi, ditambah persaingan tidak sehat yang terjadi antara Deputi Komisaris Sean dan Waise, Kepolisian Hong Kong berada dalam kondisi yang sangat berbahaya. Apakah ego pemimpin mereka lebih penting daripada nyawa 5 orang kolega mereka?


FACTS ABOUT COLD WAR
Dalam film ini, Tony Leung Ka Fai mendapatkan penghargaan sebagai Best Actor di 32nd Hong Kong Film Awards. Penghargaan ini merupakan penghargaan kelima untuk kategori sejenis yang pernah diterimanya di ajang Hong Kong Films Awards. Adapun 4 penghargaan Best Actor lain yang pernah diterimanya di ajang tersebut adalah untuk film Chui Lian Ting Zheng (1983), Election (2005), Dai Cheung Foo (2005), dan 92 Legendary La Rose Noire (1992).

Poster Awal film Cold War (dengan Andy Lau)
Saat menerima penghargaan Best Actor di 32nd Hong Kong Film Awards, secara khusus Tony Leung Ka Fai memberikan penghargaan terbesarnya kepada kedua putrinya yang telah mendukungnya di film Cold War. Saat film tersebut ditayangkan di Hong Kong, kedua putri Tony Leung menonton film tersebut hingga 4 kali. Dan setiap kali menonton, mereka selalu mengajak 20 orang teman sekolahnya, yang selalu berbeda-beda setiap kali menonton.

Andy Lau turut pula bermain dalam film ini sebagai cameo. Dia berperan sebagai Phillip M.W. Luk, anggota Security Bureau.

Poster Cold War teranyar (tanpa Andy Lau)
Saat pertama kali dirilis di Hong Kong, poster film ini menampilkan wajah Andy Lau sebagai salah satu pendukung utama film Cold War. Namun setelah film ini sukses besar, poster tersebut diganti dengan menghilangkan wajah Andy Lau dan hanya menampilkan nama Andy Lau saja sebagai aktor pendukung. Dan saat film ini dirilis dalam bentuk DVD, baik nama maupun wajah Andy Lau sudah tidak ada lagi. 

Kesuksesan film Cold War - baik secara finansial, maupun penghargaan - mendorong produser William Kong untuk merilis sekuel Cold War. Seperti yang disampaikannya pada majalah online Groove Asia, pada bulan Mei ini shooting Cold War 2 akan segrera dimulai. Para kru dan artis yang terlibat dalam Cold War pertama akan tetap bermain dalam film tersebut. Di kesempatan berbeda, Aaron Kwok membenarkan pernyataan Kong tersebut. Dia telah menerima skrip Cold War 2 dan sudah tidak sabar untuk segera memulai shooting film tersebut dalam waktu dekat ini.
Tanggal 13 April 2013 silam, Hong Kong menggelar The 32nd Hong Kong Film Awards, sebuah ajang penghargaan bergengsi perfilman Hong Kong yang digelar setiap tahun. Tahun ini, acara tersebut digelar di Hong Kong Cultural Centre dan disiarkan secara langsung oleh TVB, Now TV, dan RHTK Radio 2 yang dapat distreaming serta ditonton secara langsung di seluruh dunia.

Tony Leung Ka Fai & Miriam Yeung
Acara yang diorganisir Hong Kong Film Awards Association Ltd. tersebut dipandu host Eric Tsang, Ronald Cheng, Gordon Lam, dan Jerry Lamb. Dari semua kategori penghargaan, film Cold War mendapatkan apresiasi yang luar biasa dan nyaris mendominasi semua kategori penghargaan. Dari 12 nominasi, akhirnya Cold War meraih 9 penghargaan dan membuktikan diri sebagai film Hong Kong terbaik tahun 2013 ini.

Adapun daftar lengkap pemenang dalam penghargaan tersebut adalah :

Best Film: Cold War <寒戰>
Best Director: Longman Leung, Sunny Luk (Cold War)
Best Screenplay: Longman Leung, Sunny Luk (Cold War)
Best Actor: Tony Leung Ka Fai (Cold War)
Best Actress: Miriam Yeung (Love In The Buff)
Best Supporting Actor: Ronald Cheng (Vulgaria)
Best Supporting Actress: Dada Chan (Vulgaria)
Best New Performer: Alex Tsui (Cold War)
Best Cinematography: The Silent War <聽風者>
Best Film Editing: Cold War
Best Art Direction: The Last Tycoon <大上海>
Best Costume and Make Up Design: The Great Magician <大魔术师>
Best Action Choreography: Jackie Chan & He Jun (CZ12)
Best Original Film Score: Cold War
Best Original Film Song: The Last Tycoon
Best Sound Design: Cold War
Best Visual Effects: Cold War
Best New Director: Roy Chow (Nightfall)
Best Film from Mainland and Taiwan: Back to 1942
Lifetime Achievement Award: Ng See Yuen
Best Director: Longman Leung, Sunny Luk (Cold War)
Best Screenplay: Longman Leung, Sunny Luk (Cold War)


Tahun 2013 ini, akan banyak film Hong Kong yang perlu diberi catatan dan ditandai sebagai film "wajib tonton". Sebagian besar sudah menjadi pembicaraan walau filmnnya sendiri masih belum selesai diproduksi. Tidak ada salahnya Anda pun mengetahui film apa saja yang mendapatkan rekomendasi saya untuk ditongkrongi saat beredar nanti.

Semua film yang saya sebutkan berikut ini masih dalam proses produksi sehingga tanggal rilisnya belum pasti. Namun dipastikan semuanya akan dirilis tahun 2013 ini.

IP MAN 3
Bagi para fans Ip Man, tentu akan mengenyitkan kening karena "setahu" Anda, Ip Man sudah diproduksi 5 seri : Ip Man (2008), Ip Man 2 (2009), Ip Man - The Legend is Born (2010), The Grandmasters (2012), dan Ip Man : The Final Fight (2013). Well... mungkin perlu dijelaskan bahwa di Hong Kong, film yang dianggap "film resmi" semi-biografi Ip Man adalah film yang diperani Donnie Yen serta disutradarai oleh Wilson Yip. Dan Ip Man 3 yang saya rekomendasikan di sini adalah Ip Man versi "film resmi".

Alur cerita film ini akan lebih berfokus pada hubungan antara Ip Man dan salah satu murid legendarisnya : Bruce Lee, serta proses pelatihan yang dialami Bruce Lee selama dibimbing oleh Ip Man. Skenarionya dibuat oleh Edmond Wong, anak Raymond Wong (produser trilogi Ip Man). Bulan April 2013 silam, Donnie Yen telah menyatakan kesediaannya memerani Ip Man untuk ketiga kalinya. Untuk pemeran Bruce Lee, hingga saat ini pihak produser sedang melakukan audisi, mengingat mereka mencari pemeran berusia 16 tahun yang memiliki wajah serta gaya yang mirip dengan sang Raja Kung Fu tersebut.  Sutradara film tersebut masih dipercayakan ada Wilson Yip. Walau pemeran Bruce Lee belum ditemukan, namun shooting film ini sudah berlangsung dan direncanakan sudah dapat disaksikan penonton akhir tahun 2013 ini, atau akhir Januari 2014. Film ini akan dibuat dalam format 3D agar penonton dapat merasakan langsung dasyatnya jurus-jurus Wing Chun.


HONGKONG POLICE STORY 2013
Salah satu film franchise Jackie Chan yang populer sepanjang masa adalah franchise Police Story. Film Police Story 1 (1985) sudah diakui dunia sebagai film dengan aksi stunt paling banyak dan ekstrim sepanjang masa. Di film ini pula, nama Jackie Chan mulai dikenal publik sebagai aktor yang memerani sendiri semua aksi stunt di hampir semua scene. Tidak heran jika Jackie Chan mengalami luka parah yang cukup serius selama memerani semua sekuel Police Story.

Saat ini Police Story telah dibuat hingga 5 seri (Police Story 1 (1985); Police Story 2 (1988); Police Story 3 : Super Cop (1992); Police Story 4 : First Strike (1996); New Police Story (2004)). Pada November 2012 silam, Jackie Chan memberikan konfirmasi untuk membuat seri keenam dari Police Story. Judul sementara yang digunakannya adalah Hong Kong Police Story 2013. Berbeda dengan kelima franchise Police Story sebelumnya (dalam kelima seri Police Story, Jackie berperan sebagai Kevin Chan, seorang polisi Hong Kong yang terkenal dengan gaya nekadnya), di seri terbaru ini, Jackie akan berperan seorang polisi China yang kaku dan keras. Sangat jauh berbeda dengan gayanya yang dikenal humoris dan slengeg'an. Akan seperti apa gaya Jackie Chan nanti? Tunggu saja jadwal edarnya.


SPL 2
SPL (Sha Po Lang) adalah salah satu film eksyen super keras produksi tahun 2005 favorit saya. Film yang disutradarai Wilson Yip ini menceritakan tentang aksi seorang polisi Hong Kong membekuk seorang pemimpin triad. Film ini menjadi legenda tersendiri di kalangan para penikmat film eksyen karena koreografi aksi bela diri yang ditampilkan dalam film ini benar-benar brutal dengan aksi perkelahian yang tidak lazim. Donnie Yen - selaku pemeran utama dan juga koreografer bela diri film tersebut - memadukan banyak gerakan bela diri yang tidak lazim ke dalam film tersebut (mulai dari Brazillian jiujitsu hingga Gulat Mongol). Bahkan beberapa gaya eksekusi menghabisi musuh yang ditampilkannya di film tersebut sedikit-banyak mengingatkan saya pada aksi perkelahian para jagoan UFC (Ultimate Fighting Championship).

Di tahun ini, SPL telah dikornfirmasi akan dibuat sekuelnya. Paco Wong akan menggantikan Wilson Yip sebagai sutradara. Donnie Yen, Simon Yam, dan Sammo Hung yang merupakan tiga pemeran utama dalam SPL pertama belum memberikan kepastian keikutsertaan mereka dalam sekuel ini. Hingga saat ini, jalan cerita SPL 2 masih dirahasiakan, dan proses produksi akan berlangsung dalam waktu dekat ini.


THE MONKEY KING
Ini adalah film kolosal yang gaungnya sudah terdengar sejak tahun 2010. Film berformat 3D yang diproduksi dengan dana HKD$ 500 juta ini merupakan film ambisius terbesar yang pernah dibuat oleh perfilman Hong Kong saat ini. Diperani artis papan atas Hong Kong seperti Donnie Yen, Chow Yun Fat, Aaron Kwok, Gigi Leung, Kelly Chen, Peter Ho, dan lain-lain, film arahan sutradara Cheung Pou Soi ini akan berfokus pada aksi liar Sung Go Kong yang memberontak dan mengacak-acak Kerajaan Langit. Awalnya film ini akan dirilis awal tahun 2013, kemudian bergeser ke bulan Juli 2013, dan terakhir jadwal edarnya berubah kembali menjadi 11 November 2013. Mudah-mudahan tidak geser lagi ya...


INFERNO 3D
Sudah lama rasanya tidak mendengar duo sutradara bersaudara Pang (Danny dan Oxide Pang) bersatu membuat film kembali. Dua bersaudara kelahiran Thailand ini memulai karir penyutradaraan sejak 1999, saat masih tinggal di negara kelahiran mereka dan merilis film Bangkok Dangerous (1999). Sukses dengan film itu, mereka kemudian membuat terobosan dengan membuat film The Eye (2002), film Hong Kong bergenre horror. Film inilah yang membuat nama mereka langsung dikenal dunia. Sejak itu, keduanya identik sebagai sutradara spesialis film horror, walau sebenarnya karya mereka tidak melulu horror.

Kreasi terbaru mereka adalah Inferno 3D yang saat ini sedang dalam proses produksi. Film disaster yang diperani Sean Lau dan Louis Koo ini akan menceritakan tentang perjuangan dua petugas pemadam kebakaran yang harus bertarung dalam sebuah bencana kebakaran dasyat. Rencananya film ini akan beredar Desember 2013 mendatang.


DETECTIVE DEE THE PREQUEL
Tahun 2010 silam, Tsui Hark merilis film Detective Dee and The Mystey of the Phantom Flame. Film yang diperani Andy Lau, Carina Lau, dan Li Bing Bing ini cukup sukses, sehingga membuat sutradara kawakan ini berencana untuk merilis lanjutan dari kisah petualangan Detective Dee Ren Jie ini. Dan tahun 2013 ini, rencana tersebut akan rampung karena dalam waktu dekat, seri kedua petulangan Detective Dee yang berjudul Detective Dee The Prequel akan beredar. Film ini akan menceritakan tentang masa muda dari detektif penyelidik kasus supranatural ini. Peran Detective Dee akan diserahkan pada Mark Chao, aktor muda asal Taiwan. Sementara itu, Karina Lau akan tetap memerani peran sebagai Ratu Wu Ze Tian, Ratu China yang benar-benar pernah hidup dan memerintah di tahun 689.  Pemeran lain yang akan bermain dalam film ini adalah Angela Baby, William Feng, Lin Geng Xing, dan aktor Korea Kim Bum.


LOVE AND LET LOVE
Sepanjang karirnya, John Woo terkenal sebagai sutradara film-film eksyen. Kalau pun pernah membuat film drama, biasanya genrenya drama-eksyen (misalnya Once A Thief dan trilogi A Better Tomorrow). Namun tahun 2013 ini, sutradara yang terkenal dengan film-film eksyen box-office seperti Broken Arrow, Face / Off, Mission Impossible 3, Hard Boiled, dan dwilogi Red Cliff ini mengejutkan dunia dengan rencananya untuk merilis film drama romantis berjudul Love and Let Love. Film ini dibintangi Zhang Ziyi, Chang Chen, dan Song Hye Kyo ini belum diketahui kapan akan dirilis dan bagaimana ceritanya. Namun yang pasti, film ini adalah film drama romantis murni yang bebas dari desingan peluru dan ledakan dasyat yang artistik khas John Woo. Akan seperti apa jadinya film ini di tangan John Woo? Benar-benar bikin penasaran....



NewerStories OlderStories Home