Kemarin saya berkesempatan menonton film Rock of Ages, sebuah drama musikal komedi yang cukup menghibur. Terus terang, saya kurang menyukai film drama musikal karena "trauma" ketiduran di bioskop saat menonton Chicago beberapa tahun lalu. Namun film Rock of Ages berhasil "memaksa" saya menonton hingga akhir dengan mata melek karena 1 premis : Tom Cruise !!!

Ya, inilah film pertama di mana Tom Cruise bernyanyi lagu rock. Bukan lip-synch, bukan alih-suara orang lain, namun benar-benar bernyanyi. Ini yang membuat saya penasaran, seperti apa sih suara Tom Cruise? Dan setelah mendengar, saya baru tahu kalau Tom Cruise punya suara yang luar biasa keren dan dasyat juga, walau tidak bisa dipungkiri kalo teknik bernyanyinya sangat mirip dengan Axl Roses (Guns & Roses) dan Nikki Sixx (Moutley Crue), sehingga sempat muncul keraguan kalau lagu-lagu yang dinyanyikan Cruise aslinya dinyanyikan oleh kedua vokalis itu.Namun setelah baca-baca dari berbagai artikel yang membahas film ini, saya akhrnya dapat kepastian kalau Tom Cruise benar-benar menyanyikan sendiri lagu-lagu di dalam film tersebut.

Well... Rock of Ages adalah film ringan yang cukup menarik. Diadaptasi dari pagelaran broadway tahun 2006, drama musikal kreasi Chris D'Arienzo ini bersetting tahun 1987, saat musik rock sedang berada dalam masa kejayaannya. Film ini sebenarnya terbagi dalam 3 cerita yang saling berterkaitan.

Cerita pertama terfokus pada hubungan Sherrie Christian (diperani Julianne Hough) - gadis asal Oklahoma  yang merantau ke Hollywood untuk mewujudkan mimpinya sebagai penyanyi terkenal - dengan Drew Boley (Diego Boneta) - seorang waiter yang bekerja The Bourbon Room - di mana hubungan itu kelak membuat mereka menjadi duo penyanyi rock yang digemari banyak orang.

Cerita kedua adalah tentang The Bourbon Room sendiri - tempat Sherrie dan Drew bekerja - yang adalah sebuah tempat bernaungnya para musisi rock pemula. Pada saat itu The Bourbon Room menghadapi krisis keuangan dan terancam ditutup karena menunggak hutang pajak yang cukup besar. Pada saat bersamaan, Stacee Jaxx (Tom Cruise) bersama band-nya, The Arsenal, mengadakan konser perpisahan di sana. Konser itu sukses dan hasilnya tadinya dapat digunakan Dennis Dupree (Alec Baldwin) -sang pemilik cafe - untuk melunasi hutangnya. Namun malah ditipu oleh Paul Gill (Paul Giamatti) - manager Stacee Jaxx - yang mengambil semua hasil konser dan tidak meninggalkan uang sedikitpun untuk Dupree.

Dan cerita ketiga tentang sekelompok orang yang dipimpin Patricia Whitmore (Catherine Zeta Jones) - istri senator Mike Whitmore (Bryan Craston) - berunjuk rasa menentang keberadaan The Bourbon Room dan para penyanyinya karena dinilai menyebarkan ajaran sesat. Protes tersebut terutama sekali ditujukan pada Stacie Jaxx (Tom Cruise) - lead singer Arsenal - yang dinilai tidak mengajarkan hal yang baik pada kaum muda. Di akhir cerita, terungkap kalau unjuk rasa yang dilakukan Patricia itu tidak lain karena kecewa cintanya ditolak oleh Stacie Jaxx. Bahkan terungkap kalau Patricia dulunya adalah salah satu gruppie Stacie Jaxx yang sangat mengidolakan penyanyi itu.

Saat menilai film ini, saya melihat dari 2 sisi. Jika bicara film "bermutu", film ini jauh dari kata "bermutu" itu sendiri. Dalam hal cerita, tidak luar biasa. Akting para pemainnya? Sangat buruk !!! Padahal hampir semuanya artis papan atas Hollywood. Yang agak lumayan hanya Alec Baldwin yang tampil lumayan meyakinkan, bahkan mengejutkan (karena di film itu dia ternyata seorang "gay"). Namun pemain lain terkesan main-main dan terlalu berlebihan. Pokoknya bicara "standar" normal film berkualitas,nilainya E-.

Sebaliknya, kalau bicara soal artistik dan penggunaan lagu sebagai soundtrack, saya beri nilai A+. Bagi penggemar musik rock era 80an, film ini bagaikan sebuah nostalgia masa remaja. Semua lagu yang ada di film ini sangat mewakili dunia rock & rock era 80an yang glamor dan megah. Ada Paradise City (Guns & Roses), Living In Paradise (David Lee Roth), Sister Christian (Night Ranger), Waiting for A Girl Like You (Foreigner), Hit Me With Your Best Shot (Pat Bananar), Rock You Like A Hurricane (Scorpions), Wanted Dead or Alive (Bon Jovi), We Build This City (Jefferson Starship), Pour Some Sugar On Me (Def Leppard), I Wanna Rock (Twisted Sister), dan lain-lain.

Yang paling menarik dalam film ini adalah aransemen ulang lagu, serta medley lagu-lagu rock yang terasa pas sekali. Saya sangat suka dengan medley penggabungan lagu Juke Box Hero dan I Love Rock & Roll yang terdengar sangat mantap sekali, padahal kedua lagu itu memiliki irama dan hentakan yang berbeda.

Overall, buat penggemar lagu2 rock, film ini adalah salah satu film "langka" yang mungkin akan jarang Anda temukan dan merupakan pengalaman yang mengesankan untuk dapat menonton film ini. Dan jika Anda memutuskan untuk menonton film ini, jangan mengomentari akting semua artis pendukung film itu. Film ini memang tidak diperuntukkan untuk penonton yang menikmati akting dan cerita, namun didedikasikan bagi para Rock-Mania. So... let's ROCK....!!


DO YOU KNOW?
Peran Dennis Dupree tadinya akan diberikan pada Will Ferrell, lalu berpindah ke Steve Ferrell. Namun pada akhirnya Alec Baldwin terpilih untuk berperan sebagai tokoh itu.

Untuk mengasah vokalnya yang terbilang "pas-pasan", Tom Cruise berlatih vokal selama 5 jam sehari di bawah asuhan Ron Anderson, guru vokal yang juga melatih vokal Axl Roses. Wajar jika di film kita bisa melihat gaya menyanyi Cruise memiliki kemiripan dengan Axl.

Setidaknya ada 2 lagu yang tidak tepat digunakan dalam film ini : I Remember You (Skid Row) dan More Than Words (Extreme). Lagu I Remember You bisa kita dengar mengalun sayup-sayup di adegan saat Sherrie dan Drew berada di Tower Records. Masalahnya, lagu tersebut sebenarnya baru dirilis tahun 1989, sedangkan setting film ini di tahun 1987. Sementara itu, Lagu More Than Words yang dinyanyikan secara medley oleh Sherrie dan Drew aslinya dirilis tahun 1990.

Sebuah kesalahan "kecil" juga terjadi pada setting film, saat Drew berada dalam kamarnya. Di salah satu bagian kamar terdapat poster cover album Not Fakin; milik Michael Monroe. Masalahnya : Album tersebut baru dirilis tahun 1989.

Dalam film, terdapat adegan Sherrie dan Drew bernyanyi di bawah tulisan "Hollywood" di puncak bukit. Di dunia nyata, tidak seorang pun bisa berada di dekat tulisan tersebut karena lokasi tersebut dipagari dan para turis sangat dilarang untuk bisa berada di lokasi tersebut.

Drama musikal Rock of Ages - yang diadaptasi film ini - pertama kali dimainkan di Los Angeles tahun 2006, dan kemudian dimainkan kembali di Broadway tahun 2009. Selanjutnya menjadi drama musikal yang rutin dimainkan sepanjang tahun. Drama ini meraih banyak penghargaan, terutama Tony Awards, dan menjadi salah satu tontonan yang paling digemari banyak orang. Salah seorang artis yang rutin menonton pertunjukan Rock of Ages adalah Steven Tyler, vokalis band Aerosmith.

Jangan kira Malin Akerman - pemeran Constance Stack, reporter Rolling Stone- adalah gadis lugu seperti penampilannya di film. Sebenarnya dia adalah mantan vokalis grup alternatif-rock The Petalstones. Akerman keluar dari band itu pada tahun 2005 untuk kemudian menikah Roberto Zoncone, drummer band tersebut,pada tahun 2007.

 


Film berikut ini bisa dikategorikan sebagai "film lawas". Film bergenre eksyen produksi Turki ini dirilis tanggal 5 November 2010 silam dan menjadi film dengan penghasilan tertinggi sepanjang sejarah perfilman Turki. Walau sebenarnya mendapatkan cukup banyak kritikan pedas saat dirilis di luar Turki, namun menurut saya film ini adalah film yang patut ditonton karena mengandung makna yg sangat mendalam mengenai arti "Toleransi Beragama:.

Film yang diperani Mahsun Kirmizigul, Haluk Bilginer, Mustafa Sandal, Danny Glover, Gina Gershon, dan Robert Patrick ini bercerita tentang dua orang polisi anti-teror dari Istanbul - Fiyat (Kirmizigul) dam Acar (Sandal) - yang ditugasi Atasannya untuk membawa pulang seorang pemimpin agama Islam berjuluk Dajjal yang ditangkap FBI di New York untuk dibawa pulang ke Turki. Dajjal diyakini bertanggung jawab atas serangkaian teror dan rencana pengeboman yang akan dilakukan di Turki.

Tiba di New York, Fiyat dan Acar dipertemukan dengan Hajji Gumsu, orang yang disebut-sebut sebagai pemimpin teroris tersebut. Awalnya kedua polisi itu sangat meyakini kalau Hajji memang bersalah. Namun setelah bersama-sama dengan Hajji, mereka menyadari kalau Hajji bukanlah Dajjal.

Film drama-action ini cukup sarat dengan pesan persaudaraan dan kerukunan beragama. Dalam film tersebut, Hajji Gumsu beristrikan Maria, seorang wanita beragama Katolik. Anak mereka, Jasmine, memiliki kekasih yang beragama Kristen. Selain itu juga, film ini juga menyinggung tentang makna "jihad" yang murni, yang tidak didasarkan pada kekerasan, namun pada kasih dan toleransi. Salah satu adegan yang cukup mengharukan buat saya adalah ketika Hajji mengajak istri dan kedua polisi tersebut pergi ke sebuah mesjid di Bitlis, Turki. Yang mencengangkan, di dalam mesjid tersebut terdapat gambar Bunda Maria dan Yesus Kristus yang berdampingan dengan kaligrafi Arab yang indah. Di dalam mesjid tersebut, mereka bersama-sama berdoa menurut agama masing-masing. Adegan ini membuat saya terpana dan sadar bahwa Agama bukanlah pembatas hubungan antar-manusia. Agama hanyalah cara pandang kita dalam mencari Wajah Tuhan, hanyalah sebuah kepercayaan dalam hati yang tidak sepatutnya dijadikan bahan perdebatan.

Film ini cukup berhasil menangkap esensi toleransi beragama dan dapat dengan sempurna menampilkan hubungan harmonis antar umat berbeda agama. Sayang, film sebaik ini tidak pernah tayang di bioskop di Tanah Air. Bahkan DVD Originalnya pun tidak beredar di Indonesia hingga hari ini.


FAKTA TENTANG FILM INI : 
Five Minarets in New York (Lima Pilar Mesjid di New York) beredar di Amerika dengan judul "Act of Vengeance" dan di Australia dengan judul "The Terrorist". Di Turki sendiri, film ini beredar dalam 2 judul : "New York'ta Bes Minare" dan "Five Minarets in New York". Judul film tersebut berasal dari lagu rakyat Turki "Bitlis'te Bes Minare" (Five Minarets in Bitlis).

Film ini diproduksi dengan biaya US$ 12 juta dan menjadi box office Turki dengan perolehan hingga US$ 21 juta. Angka ini belum termasuk pendapatannya dalam peredaran di seluruh dunia, serta penjualan DVD.

Teaser film ini menampilkan detektif Istanbul - yang diperani Kirmizigul dan Sandal - berlari dengan wajah tegang di jalan kota New York. Kemudian gambar beralih pada Presiden Obama yang berpidato tentang rencananya melawan terorisme, lalu beralih pada gambar pesawat yang menabrak Gedung WTC (rekaman Penyerangan 9 September 2001), dan diakhiri dengan adegan jemaat Muslim yang bersembahyang di Central Park. Di luar dugaan, teaser ini menjadi daya tarik penonton Turki untuk menonton film tersebut.

Mahsun Kirmizigul adalah pemeran utama, sekaligus sutradara film ini. Selain sineas, Kirmizigul adalah juga seorang penyanyi dan penulis lagu populer di Turki. Dia memiliki perusahaan rekaman ternama di Turki bernama Prestij Muzik.

Butuh waktu 12 tahun bagi Kirmizigul untuk membuat film Five Minarets in New York. Untuk mendanai filmnya, Kirmizigul menggunakan semua penghasilannya dari 2 film sebelumnya.

Ada satu kesalahan "kecil" yang mungkin kurang disadari penonton. Di menit 36:11, saat adegan jemaat Islam berdoa di East River (dekat Kent Street), mereka menghadap arah selatan, yang mana arah kiblat di New York adalah di utara.



"Yippee-Kiyay-Mother Fucker...!!!"

Sebagian besar orang berusia 30 tahun ke atas, tentu familiar dengan seruan itu. Yep, itu adalah seruan khas dari John McClaine, yang tidak lain adalah karakter protagonis yang "susah matinya" di film Die Hard yang pernah menggemparkan dunia pada tahun 1988. Bruce Willis membawakan karakter itu dengan sangat meyakinkan, membuatnya sangat lekat dengan John McClaine. Berkat karakter dan film itu pulalah, nama Bruce Willis dikenal dunia sebagai super star film eksyen di era 80-90an.

Dalam kurun waktu 25 tahun, Die Hard telah dibuat dalam 5 seri. Dan seri teranyarnya - A Good Day to Die Hard - akan beredar serentak di Asia (termasuk Indonesia) pada tanggal 7 Februari 2013. Di Amerika sendiri, film ini malah terlambat beredar, yaitu tanggal 14 Februari 2013. So... buat yang tinggal di Asia, bersyukurlah karena akan menjadi saksi pertama peredaran perdana film aksyen paling dasyat sepanjang masa ini.

Di seri kelima ini, Bruce Willis masih tetap dipercaya untuk memerani John McClaine. Sedangkan pendukung lain yang turut andil dalam film tersebut adalah Jai Courtney, Mary Elizabeth Winstead, Cole Hauser, dan Sebastian Koch. Film ini disutradarai John Moore, sutradara Irlandia yang sebelumnya menyutradarai film Behind Enemy Lines, Max Payne, dan The Omen (versi 2006). Melihat para pendukung film yang sedemikian dasyat, tentu kita bisa menduga jika film ini pun akan sama dasyatnya seperti seri-seri sebelumnya.

Film A Good Day to Die Hard akan menceritakan tentang John McClaine yang harus terbang ke Rusia untuk mengurusi anaknya, John McClaine Jr (Courtney) yang ditahan oleh Pemerintah Rusia tanpa sebab yang jelas. Tanpa disangka, penahanan anak John McClaine tersebut ada kaitannya dengan konspirasi teroris yang berupaya menggulingkan pemerintahan Rusia yang sah.

Sama seperti seri-seri sebelumnya, Die Hard seri kelima ini dipastikan penuh aksi tegang yang - bahkan - lebih dasyat daripada sebelumnya. Proses shooting dilakukan di Budapest, Hungaria, sejak tanggal 23 April hingga 14 Mei 2012. Guna menciptakan ketegangan yang sebenarnya, maka untuk sebagian besar adegan tembak-tembakan, John Moore - sang sutradara - menggunakan peluru asli. Bisa Anda bayangkan bagaimana ngerinya Bruce Willis yang harus bergerak cepat selama shooting, menghindari desingan peluru sungguhan. Nyawa jadi taruhan...!!!


SEJARAH DIE HARD
Pada masanya - di akhir 1980an, tepatnya 1988 - film Die Hard merupakan film eksyen yang ikonik dan menjadi salah satu film terbaik sepanjang masa. Berkat Die Hard-lah, nama Bruce Willis menjadi populer dan dikenal masyarakat dunia sebagai aktor laga top hingga hari ini. Pada masa itu, film Die Hard menjadi genre tersendiri yang saat itu idenya banyak diadaptasi oleh film-film lain. Beberapa di antaranya yang juga terkenal adalah Passenger 57 (diperani Wesley Snipes), Executive Decision (Steven Siegel), Speed (Keanu Reeves), dan High Risk (diperani Jet Li dan Jacky Cheung).

Die Hard sendiri adalah film yang diangkat dari novel terbitan 1979 yang berjudul Nothing Lasts Forever (karya Roderick Thorp). Film pertama Die Hard menceritakan tentang John McClaine (Bruce Willis), seorang polisi New York, yang terbang ke Los Angeles untuk menghabiskan liburan Natal bersama istrinya Holly (Bonnie Bedelia) dan kedua anaknya. Tiba di Los Angeles, John dibawa ke Nakatomi Plaza, tempat istrinya bekerja, di mana pada saat itu sedang berlangsung pesta Natal di tempat tersebut.

Di tengah pesta, tiba-tiba teroris beraksen Jerman pimpinan Hans Gruber (diperani Alan Rickman) menguasai gedung tersebut dan menyandera semua orang di dalam gedung. John yang saat itu sedang di toilet, berhasil lolos dari sergapan para teroris. Dengan menggunakan intuisi polisinya, serta dengan peralatan seadanya, John bergerilya di dalam gedung yang terkunci itu untuk mengalahkan para teroris dan menyelamatkan semua sandera di dalam gedung.

Die Hard kedua beredar pada tahun 1990 dengan judul Die Hard 2 : Die Harder.  Ceritanya mirip dengan yang pertama, walau kondisinya sedikit berubah. Kali ini John menunggu istrinya di Washington Dulles International Airport, di mana istrinya sedang terbang dari Los Angeles untuk menemuinya di Washington DC. Tanpa disangka, sepasukan tentara bayaran pimpinan Colonel Stuart (William Sadler) menyandera bandara dan meminta Pemerintah Amerika untuk membebaskan Diktator Amerika Latin yang ditahan. Jika tidak, maka semua pesawat yang mendekati bandara Dulles tidak akan dapat mendarat, bahkan disabotase. John harus berjuang keras mengalahkan para teroris untuk menyelamatkan istrinya yang ada di pesawat.

Lima tahun kemudian, tepatnya tahun 1995, Die Hard ketiga beredar dengan judul Die Hard With A Vengeance. Berbeda dengan dua seri sebelumnya, seri ini mengalami perubahan yang cukup dramatis. Dikisahkan John sudah pisah dengan istrinya, dan dia diskorsing dari kepolisian akibat kecanduan alkohol. Tanpa disangka, sepasukan teroris yang dipimpin Simon Peter Gruber (Jeremy Irons) mengancam akan menghancurkan kota New York jika John tidak melakukan beberapa instruksi yang diperintahkannya. Pada awalnya John menduga Simon adalah Saudara dari Hans Gruber (musuh John McClain di Die Hard 1) yang ingin membalas dendam. Ternyata tujuan Simon hanyalah mengalihkan perhatian John dan para polisi agar dia leluasa melakukan rencananya yang lain.

Tadinya Die Hard with A Vengeance akan menjadi seri terakhir dari trilogi Die Hard. Namun karena kesuksesan yang diraih, maka akhirnya dibuatlah Die Hard seri keempat yang berjudul Live Free or Die Hard. Film tersebut dirilis tahun 2007, nyaris 10 tahun jarak waktunya dengan yang ketiga. Film tersebut mengambil waktu 10 tahun kemudian setelah seri ketiga, dengan lokasi di Washington DC. Dikisahkan pada waktu itu, John sudah bercerai dengan istrinya dan sedang kesulitan menangani Lucy (Mary Elizabeth Winstead), anak perempuannya yang beranjak remaja. Musuh John kali ini adalah teroris dunia maya - dipimpin Thomas Gabriel (Timothy Olypant) - yang melakukan aksi hacking ke komputer guna menguasai perekonomian dunia. Dibantu oleh hacker bernama Matthew Farrell (Justin Long), mereka bersama-sama mengalahkan sang teroris.


FAKTA MENARIK TENTANG DIE HARD :
Jargon "Yippee-Ki-Yay-Motherfucker" yang diserukan John McClain dalam film Die Hard menduduki peringkat ke-96 sebagai "The 100 Greatest Movie Lines" versi majalah Premiere di tahun 2007.

Film Die Hard 1 menjadi satu-satunya film eksyen yang paling banyak memiliki judul alternatif. Saat ditayangkan di Serbia, film tersebut menggunakan judul "Die Manly". Di Spanyol, film ini ditayangkan dengan judul "Crystal Jungle". Di Polandia berjudul "The Glass Trap". Di Hungaria berjudul "Give Your Life Expensive". Dan di Rusia, film ini bertajuk "A Hard Nut To Crack".

Poster Die Hard 1
Poster Awal Die Hard 1
Poster film Die Hard 1 yang asli tidak menampilkan wajah Bruce Willis, hanya gambar gedung. Namun setelah film itu sukses dalam penayangan perdana, pihak produser kemudian mengganti poster tersebut dengan menambahkan wajah Bruce Willis. Poster itulah yang kini digunakan sebagai poster resmi Die Hard 1 hingga hari ini.

Sebuah kesalahan cukup "fatal" terjadi di film Die Hard 1, di mana semua teroris (kecuali Alan Rickman) berbicara dalam bahasa Jerman yang keliru secara gramatikal. Hal ini bisa terjadi karena para pemeran teroris tersebut adalah orang-orang Perancis. Kesalahan itu tidak pernah diperbaiki, bahkan saat film tersebut beredar di Eropa sekalipun. Anehnya, tidak ada yang protes dengan kesalahan itu.

Saat beredar di Jerman, nama dan latar-belakang para teroris diubah, di mana aslinya digambarkan sebagai teroris Jerman, diubah menjadi teroris asal Inggris. Namanya pun diubah menjadi mirip nama orang Inggris. Karakter Hans Gruber menjadi Jack Gruber, Karl menjadi Charlie, Heinrich menjadi Henry. Hal ini disebabkan karena Pemerintah Jerman kuatir film tersebut dapat memicu bangkitnya Rote Armee Fraktion (The Red Army Fraction),  kelompok terorisme Jerman yang pernah meresahkan Jerman di era 80an.

Semula, skenario film Die Hard akan digunakan sebagai sekuel film Commando (diperani oleh Arnold Schwarzenegger). Ketika Arnold menolak untuk berperan kembali sebagai Komandan John Matrix dalam sekuel Commando, skenario pun diubah menjadi skenario Die Hard yang sekarang.

Mel Gibson menjadi kandidat pertama yang ditunjuk untuk berperan sebagai John McClaine. Namun karena baru sukses memerani tokoh Riggs di film Lethal Weapon, Gibson menolak peran tersebut dengan alasan "terlalu mirip dengan karakternya di Lethal Weapon". Peran itu kemudian ditawarkan kepada Harrison Ford, namun juga ditolak, mengingat kala itu Ford baru saja menyelesaikan film Indiana Jones. Richard Gere - kandidat ketiga - pun menolak saat ditawari peran itu. Setelah melewati 7 kandidat lain- Nick Nolte, Robert de Niro, Arnold Schwarzenegger, Sylvester Stallone, Burt Reynolds (Cannonball Run), Don Johnson (Miami Vice) dan Richard Dean Anderson (MacGyver) - barulah pada akhirnya Bruce Willis yang mendapatkan peran tersebut.

Gedung Nakatomi yang merupakan set kejadian di Die Hard 1, aslinya adalah Gedung Kantor Pusat perusahaan 20th Century Fox. Saat digunakan sebagai tempat shooting, gedung tersebut masih belum sepenuhnya selesai, sehingga shooting dilakukan di salah satu bagian gedung saja. Setelah Die Hard sukses, pihak 20th Century Fox mengeluarkan larangan bagi para turis untuk berfoto di dekat gedung tersebut.

Sebagian besar lokasi shooting Die Hard 2 (interior dan eksterior) adalah di Old Stapleton Airport di Denver dan di Tom Bradley International Terminal di Los Angeles International Airport.

Salah satu kesalahan fatal yang terjadi di Die Hard 2 adalah saat John McClaine menelepon istrinya di telepon umum bandara. Di sana terpampang dengan jelas nama perusahaan telekomunikasi Pasific Bell, perusahaan telekomunikasi yang hanya ada di Los Angeles dan Pantai Utara. Padahal film itu bersetting di Washington DC.

Masih di urusan telpon, kesalahan kedua yang cukup fatal dalam Die Hard 2 adalah saat John McClain menelepon istrinya yang ada di pesawat. Hal ini cukup ganjil, mengingat telpon di pesawat hanya bisa digunakan untuk menelepon dan tidak dapat menerima telepon dari luar.

Kesalahan berikutnya di Die Hard 2 adalah saat McClain menembakkan senjata mesin otomatis berisi peluru kosong di dalam ruang polisi. Dengan kondisi ruang yang sempit dan suara senjata yang keras, sehingga menimbulkan gema yang memekakkan telinga, seharusnya orang-orang di dalam ruangan tersebut mengalami ketulian sesaat. Anehya, tidak satu pun yang mengalami hal itu.

Saat dirilis di Perancis, 2 seri Die Hard dirilis dengan judul yang berbeda : film Die Hard 2 dirilis dengan judul 58 Minutes Pour Vivre (58 Minutes to Live), sedangkan film Die Hard 4 dengan judul "Die Hard 4.0 : Return to Hell".

Dalam Die Hard 3, di adegan Bruce Willis berjalan setengah telanjang sambil menenteng papan putih, tulisan pada papan tersebut sebenarnya adalah "I Hate Every Body". Namun saat proses editing, tulisan itu diubah dengan teknik CGI menjadi "I Hate Niggers".

Awalnya Die Hard 3 akan dirilis dengan judul "Die Hard : New York". Namun kemudian diubah menjadi judul yang dikenal saat ini : Die Hard With A Vengeance.

Walau Bruce Willis dan Samuel L.Jackson pernah tampil bersama dalam film parodi Die Hard berjudul Loaded Weapon 1 dan Pulp Fiction, namun baru di film Die Hard 3 kedua bermain dalam adegan yang sama secara bersamaan.

Adegan awal Die Hard 3, yang menampilkan papan DKNY dengan orang-orang berjalan di pinggir jalan, adalah adegan yang sama persis digunakan di film Lake Placid. Perhatikan saja, orang-orang di kedua film tersebut adalah orang-orang yang sama dan pada posisi yang sama, hanya beda kostum saja.

Naskah pertama Die Hard 3 sempat mengalami beberapa kali perubahan, sebelum akhirnya ditolak oleh para produser. Naskah tersebut kemudian digunakan untuk film Speed 2 : Cruise Control.

Entah di sengaja atau tidak, dalam DVD Die Hard With A Vengeance Special Edition, jika kita mengaktifkan teks bahasa Inggris, maka akan terlihat banyak sekali percakapan yg tidak sama dengan teksnya. Salah satu contohnya saat Zeus (Samuel L. Jackson) mengatakan, "Damn", maka pada teksnya muncul tulisan "Fuck:".

Film Die Hard 4 tadinya akan diberi judul Die Hard 4 : Tears of The Sun. Namun Bruce Willis memprotes judul tersebut karena sama dengan film yang pernah diperaninya di tahun 2003. Akhirnya diputuskan "Live Free or Die Hard". 

Film "Live Free or Die Hard" memiliki kesamaan dengan motto Kota New Hampshire yang berbunyi "Live Free or Die". Hal ini menyebabkan banyak orang mengira film ini dibuat di kota tersebut. Petugas Kota New Hampshire sempat dibuat kewalahan oleh banyaknya telpon yang menanyakan lokasi shooting film tersebut.

Perhatikanlah, semua IP address komputer yang digunakan dalam film "Live Free or Die Hard" selalu  diawali dengan kode 10, 172.16, dan 192.168. Semua IP address tersebut adalah IP sebenarnya yang sehari-hari digunakan sebagai IP address komputer pengatur lalu lintas di Washington DC.

Saat melakukan shooting Die Hard 4, Bruce Willis mengalami luka cukup serius. Dalam adegan perkelahian dengan stunt double perempuan, tanpa sengaja sepatu hak tinggi stunt tersebut menghantam mata kiri Willis hingga tembus cukup dalam. Bahkan Len Wiseman - sutradara Die Hard 4 - dapat melihat tulang wajah Willis yang mencuat di balik luka tersebut. Dalam kesempatan lain, stunt dobel Willis bernama Larry Rippenkroeger pingsan setelah terjatuh dari ketinggian 8 meter saat melakukan adegan melompat dari ketinggian. Rippenkroeger mengalami patah tulang wajah, rusuk, dada, dan tangan.

Die Hard 4 semula direncanakan untuk diproduksi dan dirilis tahun 2001. Namun karena Kejadian 9 September 2001, proses pembuatan film tersebut diundur hingga 2007.






Salah satu film horor yang cukup mencekam yang saya tonton beberapa bulan silam adalah The Possession. Film yang diproduseri Sam Raimi dan disutradarai Ole Bornedal ini merupakan adaptasi dari kisah nyata tentang Kotak Dybbuk yang pernah menggemparkan masyarakat Amerika beberapa waktu silam.

Film ini menceritakan tentang sepasang suami istri - Clyde (diperani Jeffrey Dean Morgan) dan Stephanie Brenek (Kyra Sedgwick) - yang baru sama bercerai. Sejak perceraian tersebut, kedua anaknya yang sudah dewasa - Emily (Natasha Calis) dan Hannah (Madison Davenport) - bergantian diasuh oleh kedua orang tuanya tersebut. Pada saat menginap di rumah ayah mereka, Emily menemukan sebuah kotak tua unik yang dijual di Garage Sale di samping rumahnya. Tanpa dia sadari, kotak tersebut berisi roh-roh orang mati yang disebut Dybbuk yang terkunci di dalamnya. Maka ketika kotak itu dibuka, roh Dybbuk keluar dan merasuki Em.

Sejak itu, Emily bertingkah sangat aneh. Selain senang menyendiri, dia bahkan berubah menjadi kasar. Awalnya Emily dibawa ke psikiater karena diduga tindakannya terjadi karena frustrasi dan stres dengan perceraian orang tuanya. Namun ternyata sikap Emily makin aneh, bahkan Roh Dybbuk menampakkan wajah aslinya di hadapan orang tua Emily. Hal ini memaksa orang tua Emily untuk memanggil pengusir roh (Exorcist) untuk mengusir Roh Dybbuk yang merasuk ke dalam tubuh anak mereka tersebut.


SEDIKIT TENTANG KOTAK DYBBUK (DYBBUK BOX)
Dybbuk Box atau Kotak Dybbuk adalah sebuah kotak tua berukiran yang diyakini sebagai peninggalan Perang Dunia Kedua. Kotak tersebut tidak memiliki batas sehingga tidak bisa dibuka. Satu-satunya cara agar dapat membukanya adalah dengan membelahnya dengan gergaji atau kapak. Di dalam kotak tersebut terdapat 2 koin keluaran tahun 1920, potongan rambut pirang dan coklat yang masing-masing diikat dengan tali, sebuah patung kecil yang terdapat ukuran bertulisan huruf Ibrani yang terbaca "Shalom", sebuah tutup botol anggur, sebuah putik bunga yang sudah kering, dan sebuah tatakan lilin kecil berkaki empat. Kesemua barang tersebut sering digunakan oleh masyarakat Yahudi untuk prosesi pengusiran Roh Jahat. Kotak Dybbuk sendiri adalah kotak yang digunakan oleh masyarakat Yahudi untuk mengunci dan memenjarakan roh-roh jahat tertentu.

Dalam budaya masyarakat Yahudi, Kotak Dybbuk bukanlah barang aneh dan tidak lazim. Ada banyak jenis dan bentuk Kotak Dybbuk. Namun yang paling terkenal - dan menjadi inspirasi film The Possession - adalah Kotak Dybbuk yang dijual di Pelelangan e-Bay.

Tahun 2003, dalam pelelangan online di situs eBay, sebuah Kotak Dybbuk milik Havela - warga Polandia yang selamat dari pembantaian orang Polandia (Polish Holocaust) pada Perang Dunia Kedua - ditawarkan dengan harga penawaran pertama US$ 1. Dalam proses pelelangan yang berlangsung singkat tersebut, kotak itu akhirnya terjual pada Kevin Mannis, seorang penulis dan broker profesional. Mannis berhasil membeli kotak itu dengan harga US$ 300.

Namun sejak memiliki kotak itu, Mannis dihantui rangkaian mimpi buruk dan mengalami beberapa kecelakaan yang aneh. Sesekali Mannis dapt mencium bau urin kucing atau bunga melati yang muncul dari dalam kotak itu. Bahkan istrnya tiba-tiba mengalami stroke, padahal kondisi kesehatannya sangat baik.

Kotak tersebut kemudian berpindah tangan ke beberapa pemilik, yang kesemuanya mengalami hal yang serupa dengan yang dialami Mannis. Pada akhirnya, kotak tersebut jatuh ke tangan  Jason Haxton, Direktur Musium Osteopathic Medicine, Kirkville, Missouri. Sama seperti pemilik-pemilik sebelumnya, Haxton pun mengalami mimpi buruk dan kecelakaan. Bahkan dia pun menderita penyakit-penyakit aneh yang sebelumnya tidak pernah dia derita (muntah darah, radang paru-paru, dan penyakit dalam lainnya). Setelah berkonsultasi dengan Rabbi setempat, akhirnya dilakukan prosesi pengusiran dan penutupan Kotak Dybbuk. Usai prosesi tersebut, Haxton menyimpan rapat kotak tersebut di tempat rahasia yang tidak dia sebutkan lokasinya.

TRIVIA
Saat mengetahui Sam Raimi membuat film tentang Kotak Dybbuk, Jason Haxton pernah menawarkan kotak tersebut untuk digunakan sebagai properti film. Namun Raimi menolaknya karena takut mengalami kecelakaan yang sama dengan para pemilik Kotak Dybbuk sebelumnya. Raimi lebih memilih meminta tim kreatifnya untuk membuat ulang kotak tersebut dalam bentuk yang sama sekali baru dan berbeda dengan kotak yang dimiliki Haxton.

Selama proses shooting berlangsung, Sutradara Ole Bornadel melaporkan telah terjadi insiden yang sulit dijelaskan. Satu saat, ketika semua lampu sudah dalam kondisi mati, tiba-tiba sebuah lampu meledak dan menimbulkan kekagetan semua kru film. Lima hari setelah proses shooting selesai dilakukan, gudang penyimpanan properti film di Vancouver terbakar habis. Semua isinya habis terbakar. Untuknya, film hasil shooting tidak terbakar dan bisa diselamatkan. 

Walau mendapatkan kritikan dari para kritikus - karena film tersebut terlalu mirip dengan The Exorcist yang pernah dibuat tahun 1972 - namun film The Possession mendapatkan respon yang sangat positif dari para penonton. Dirilis tanggal 30 Agustus 2012 di Amerika, film berbudjet US$ 14 juta tersebut meraup pemasukan hingga US$ 74 juta lebih.



NewerStories OlderStories Home